Menanam Harapan di Bulan

Senin, 17 Maret 2008 | 11:36 WIB

TEMPO Interaktif, Washington:Teleskop raksasa di bumi sudah banyak. Teleskop di antariksa, Hubble, juga sudah ada. Yang belum ada cuma di bulan, dan di sanalah target badan antariksa Amerika, NASA, untuk membangun teleskop barunya.

Kini gagasan itu tengah dikaji oleh gabungan sejumlah ilmuwan dan teknisi yang dipimpin tim dari Laboratorium Penelitian Kelautan Amerika Serikat. Teleskop ini akan menjadi salah satu wahana untuk mengungkap bagian dari sejarah ruang angkasa yang belum terungkap.

NASA, yang bertindak sebagai sponsor penyandang dana, mengumumkan kerjasama penelitian ini, akhir pekan lalu. Penelitian ini akan menjadi salah satu dari serangkaian penelitian astronomi NASA untuk menyumbang bahan bagi Survei Dekade, yakni pertemuan akbar astronom dan fisikawan yang dilakukan setiap 10 tahun sekali guna menentukan prioritas arah kajian astronomi dan astrofisika. Survei Dekade terakhir akan selesai dua tahun lagi.

Teleskop tersebut, yang diberi nama Interferometer Bulan Abad Kegelapan (Dark Ages Lunar Interferometer), adalah teleskop gelombang radio yang berbasis di bulan. Target teleskop ini adalah membidik sinyal hidrogen dari struktur skala besar yang pertama kali hadir pada saat alam semesta terbentuk, yang bergerak menjauhi bumi dengan kecepatan cahaya (red-shifted).

Sinyal-sinyal yang diterima interferometer itu diharapkan bisa mengungkap informasi tentang 100 juta tahun pertama, ketika alam semesta baru saja terbentuk setelah 'Ledakan Besar' (Big Bang). Saat ini, walaupun langit dipenuhi bintang, sebenarnya mereka membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terbentuk setelah ledakan besar itu.

Ada suatu waktu, yang dipercaya sekitar 100 juta tahun pertama, ketika langit sepi dari cahaya bintang. Inilah yang disebut abad kegelapan.

Untuk melacak abad kegelapan itu, para ilmwan menggantungkan harapannya pada hidrogen. Elemen yang paling melimpah-ruah di antariksa itu adalah material mentah bintang, planet dan makluk hidup. Lagi pula atom hidrogen dapat memproduksi sinyal gelombang radio, meski dalam panjang gelombang yang tak dapat terdeteksi mata manusia.

Jika sinyal-sinyal dari hirogen atom di masa Abad Kegelapan itu bisa dideteksi, para ilmuwan bisa mendapat informasi tentang bagaimana, bintang pertama, galaksi pertama dan alam semesta yang kita kenal sekarang ini terbentuk.

Karena alam semesta terus mengembang dan membesar, sinyal atom hidrogen atom dari tempat yang sangat jauh akan tertarik sehingga membentuk panjang gelombang yang jauh lebih besar, sampai beberapa meter. Observasi astronomi dengan gelombang radio semacam itu memang bukan barang baru, bahkan spektrum elektromagnetik ini sudah jamak digunakan dalam peralatan transmisi dan komunikasi sipil maupun militer. Namun semua spektrum elektromagnetik itu jutaan kali lebih terang dibandingkan sinyal hirogen yang hendak dicari. "Udara bumi sudah 'tercemar' oleh gelombang elektromagnetik dari peradaban manusia," katanya ketua tim peneliti, Joseph Lazio.

Kendala mencari sinyal hidrogen tak cukup sampai di situ. Rintangan lainnya adalah ionosfer, lapisan terluar atmosfer bumi yang dipenuhi dengan ion, sehingga menyebabkan gangguan pada sinyal astronomi ketika gelombang radio melewatinya. "Dengan kata lain, sulit untuk membangun teleskop gelombang yang efektif untuk menangkap sinyal yang halus dari ruang angkasa, apabila kita membangunnya di bumi," kata Lazio.

Bulan yang telanjang, tanpa lapisan atmosfer, adalah tempat yang pas untuk membangun teleskop yang sensitif itu. Untuk melindunginya dari pencemaran gelombang elektromagnetik bumi, teleskop akan dibangun di separuh bagian bulan yang tidak menghadap bumi, alias bagian yang hanya menghadap kegelapan angkasa.

Dalam konsep NASA, para ilmuwan akan menyelidiki kemungkinan membangun konstruksi antena novel, metode untuk meletakkan perangkat elektronik dan teknologi antena lainnya yang dapat bertahan hidup di kondisi permukaan bulan yang berat, sebagai persiapan membangun teleskop dan pusat kajian kecil disana, dalam dekade ke depan. Sebagai tahap awal, tim peneliti akan mencoba dulu membangun observatorium radio di bagian bulan yang gelap, yang akan digunakan sebagai 'mercusuar' bagi misi penerbangan ke bulan.

Lazio menyatakan interferometer bulan itu akan menjadi teleskop paling kuat yang pernah dibangun manusia dan akan membawa pemahaman lebih dalam tentang bagaimana dan darimana alam semesta terbentuk serta kemana arah perkembangannya di masa depan. "Menyelidiki abad kegelapan akan membawa kita pada kesempatan menyaksikan sejarah perjalanan alam semesta kita serta evolusinya," ujarnya.

Astronom senior di Laboratorium Penelitian Kelautan, Kurt Weiler, mengakui membangun teleskop di bulan memerlukan pertimbangan dan waktu yang panjang. Khusus untuk mega-proyek ini, NASA menghimpun beragam institusi, seperti Laboratorium Jet Propulsi Caltech, Universitas Colorado, Observatorium Astrofisika Smithsonian, Obervatorium Astronomi Radio Nasional, Universitas California-Los Angeles, Universitas California-Berkeley, Universitas New Mexico dan Universitas dan Institut Politeknik Virginia.

"Tetapi saya gembira kita sudah memulainya dengan kajian awal," kata Weiler. "Seperti halnya temuan-temuan astronomi selalu mengejutkan kita, maka kami juga yakin teleskop di bulan akan membawa harapan akan hadirnya pemahaman dan kejutan bagi ilmu pengetahuan".

amal ihsan | sciencedaily | NASA

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: