Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Semut Tak Suci-suci Amat
Senin, 17 Maret 2008 | 11:42 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Siapa yang tak kenal semut? Hewan yang satu ini sering kali dijadikan contoh positif untuk kebiasaannya bergotong royong dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan individu.

Tapi riset yang dilakukan Bill Hughes dan kawan-kawannya dari University of Leeds, Inggris, menemukan bahwa demokrasi tumbuh tak subur-subur amat dalam dunia spesies hewan mungil ini. Seperti dalam dunia manusia, "Begitu dilihat lebih dalam, Anda akan bisa melihat ada konflik dan keculasan," kata Hughes.

Semula, Hughes dan para ahli lainnya menduga semut steril dari praktek-praktek seperti itu. "Tapi analisis genetik yang kami lakukan menunjukkan bahwa kondisi sosial mereka tak berbeda, diiris-iris oleh sejumlah korupsi keluarga kerajaan," katanya.

Dalam riset yang hasilnya dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, Hughes memang menerapkan teknik sidik jari DNA terhadap lima koloni semut pemotong daun. Ia menemukan beberapa semut pejantan menebar sperma di banyak koloni berbeda. Si semut diduga ingin menurunkan gen "darah biru"-nya secara selektif, bukan cuma di satu koloni yang sama.

Semut itu diduga ingin memastikan seluruh keturunannya bisa menjadi ratu di tiap-tiap koloni tersebut, sehingga asupan pangannya terjamin, tanpa kentara kaum semut pekerja. Jika terlalu banyak larva yang menjadi ratu dalam satu koloni, tentu saja akan mudah dilihat yang mungkin akan mudah memicu pemberontakan atau pembelotan.

Hughes menyatakan inti dari kehidupan sosial semestinya adalah egaliter. Tapi beberapa pejantan berlaku licik. "Ada pengaruh genetik dalam penentuan siapa menjadi ratu," katanya, sambil menambahkan, "Kesempatan sebuah larva menjadi ratu sangat bergantung pada siapa ayahnya."

BBC


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119355 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

GELIAT SANG JAWARA
Boker Hidup Lagi!
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM
Pembantai Itu Hanya Diam
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data