Rekaman dari Dasar Laut
Selasa, 18 Maret 2008 | 20:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Usia sebuah pohon bisa diketahui dari banyaknya lingkaran atau cincin di penampang batangnya. Tapi keistimewaan itu tidak eksklusif milik pohon saja, karena koral yang tumbuh di laut dalam juga memilikinya. Bahkan lingkaran pertumbuhan koral bisa merekam data iklim sepanjang usia mereka.
Semakin besar dimensi suatu koral, semakin banyak data iklim yang disimpannya. Bila koral tumbuh sampai 4 meter, dengan kecepatan pertumbuhan 1 sentimeter tiap tahun, berarti dapat diperoleh data iklim sampai 400 tahun yang lalu.
Untuk mencari rekaman yang amat berharga itulah, Sri Yudawati Cahyarini merelakan kulitnya gosong terbakar matahari. Belum lagi segudang risiko lain, seperti tersengat bulu babi, tenggelam, terseret arus laut, bertemu hiu, atau terkena dekompresi karena menyelam.
Untung saja, selain kulit yang menghitam, peneliti di Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Bandung, ini boleh dibilang tak pernah mengalami masalah besar, kecuali ketika kapal kecil yang membawanya dari kapal besar ke lokasi karang pecah terkena ombak besar. "Maka semua anggota tim saya diasuransikan ketika meneliti di lapangan," kata perempuan kelahiran Ponorogo, 38 tahun lalu, itu.
Di lapangan, kendala penelitian jelaslah lebih beragam daripada di dalam laboratorium. Yudawati pernah seharian snorkling mengelilingi pulau, tapi tidak menemukan koral yang diinginkan. "Waktu kerja di lapangan untuk pengambilan koral amat bergantung pada cuaca," kata Yudawati. "Kalau terkena badai, kami susah mengebor koralnya, bahkan tidak bisa kerja beberapa hari menunggu badai reda. Itu bikin stres karena biaya membengkak."
Arus laut yang terkadang tak bisa ditebak juga sering mengganggu penelitian tersebut. Arus kuat di Selat Ombai, Selat Makassar, membuat para peneliti sulit mengambil contoh koral karena pengeboran harus dilakukan secara tegak lurus. "Apalagi mengebor di dalam air itu amat berat karena ada tekanan," kata Yudawati.
Meski begitu, Yudawati sudah telanjur cinta pada pekerjaan yang membuatnya merasa hidup itu indah dan tak pernah membosankan. Selain menyelam di berbagai tempat di Indonesia, Yudawati menyelam sampai ke Tahiti untuk mengebor koral.
Dari sampel koral yang dikumpulkan dari berbagai wilayah tersebut, doktor dari Kiel University, Jerman, ini bisa membuat kronologi suhu permukaan air laut selama beberapa puluh tahun ke belakang. Parameter penting dalam studi iklim itu terekam dalam unsur geokimia yang terkandung dalam lapisan pertumbuhan (growth band) koral.
Lapisan tersebut terbentuk ketika koral tumbuh, yang ditandai dengan proses kimia: pergantian unsur kalsium (Ca) dengan stronsium (Sr). Para peneliti yakin pergantian unsur ini dipengaruhi oleh suhu permukaan laut, sehingga perbandingan Sr/Ca dalam koral dapat dipakai untuk merekonstruksi parameter iklim itu. "Nilai Sr/Ca akan meningkat jika suhu permukaan laut mengalami penurunan," kata Yudawati. "Dengan kombinasi fosil koral, kami bisa mendapat data sampai ribuan tahun lalu. Inilah beda koral dengan instrumen pengukur suhu permukaan laut sekarang ini, yang mungkin hanya menyediakan hasil pengukuran sampai puluhan tahun lalu."
Selain rasio Sr/Ca, masih banyak unsur lain yang dapat digunakan sebagai data iklim, seperti magnesium dan kalsium, bahkan isotop oksigen serta isotop karbon dalam koral. Isotop oksigen, misalnya, digunakan untuk mengukur presipitasi atau curah hujan. "Suhu permukaan laut dan presipitasi merupakan parameter penting dalam studi iklim," kata Yudawati.
Tak cuma mengukur iklim, perbandingan unsur barium dan kalsium (Ba/Ca) dalam koral bisa dipakai untuk melihat sedimentasi. "Setiap parameter kondisi lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap unsur-unsur kimia dalam koral yang berbeda," kata peraih dana hibah penelitian dari Indonesia Toray Science Foundation 2007 itu.
Sebagai bukti, Yudawati menuturkan bahwa penelitian LIPI terhadap kandungan Sr/Ca dalam koral di Selat Ombai, Timor, berhasil menunjukkan suhu permukaan laut dari wilayah ini. Bahkan anomali suhu permukaan laut akibat El Nino pada 1982/1983 terekam dalam koral di wilayah tersebut. Contoh koral menunjukkan adanya anomali positif kandungan Sr/Ca, akibat penurunan suhu permukaan laut di perairan itu. "Sayangnya, data suhu hasil pengukuran yang saya peroleh masih amat pendek, cuma 2 tahun, untuk dikalibrasikan dengan data Sr/Ca koral di wilayah itu," kata peneliti yang telah menggeluti koral sejak 2001.
Meski banyak studi yang telah membuktikan bahwa kandungan Sr/Ca adalah "paleotermometer" yang sangat menjanjikan dalam studi iklim, Yudawati mengakui faktor biologi koral tidak bisa diabaikan begitu saja. "Untuk memperkecil pengaruh faktor biologi itu, harus dilakukan sampling koral dengan benar, yaitu tepat di sepanjang sumbu pertumbuhannya," ujarnya.
Yudawati berharap penelitian paleoklimatologi ini dapat memprediksi iklim di masa mendatang. Kini dia tengah bekerja sama dengan meteorologis untuk pemodelan iklim. Bahkan tidak tertutup kemungkinan geokimia koral bisa dikembangkan untuk melihat sinyal gempa dengan mengukur kandungan isotop karbon dalam koral.
Dalam waktu dekat ini, Yudawati akan meneliti koral yang tumbuh di kawasan Sumatera bagian barat. Dari data itu, peneliti bidang dinamika bumi dan bencana geologi ini akan membuat rekonstruksi sinyal Indian Ocean Dipole (IOD). Itu adalah fenomena iklim global yang dicirikan dengan anomali positif suhu permukaan laut di wilayah Samudra Hindia bagian barat (pantai timur Afrika) dan anomali negatif di wilayah Samudra Hindia bagian timur (pantai barat Sumatera). "Saya menduga rekaman iklim (fenomena IOD) akan terlihat jelas dalam koral dari wilayah ini," kata Yudawati.
TJANDRA DEWI




Komentar Anda :