Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Junk Food
Rabu, 19 Maret 2008 | 14:17 WIB

TEMPO Interaktif, :
Siapa yang tak kenal junk food? Meski namanya seseram itu, tetap saja banyak berminat terhadapnya. Ini diakui sendiri oleh Fransiska Zakaria, pakar gizi dari Institut Pertanian Bogor. "Junk food banyak diminati oleh masyarakat karena mudah diperoleh, murah, dan rasanya enak," katanya.

Tapi junk food bukanlah mitos. Dari namanya saja sudah jelas bahwa jenis makanan ini populer karena nilai gizinya yang minim. Ia bahkan mendapat predikat sampah karena memang kandungannya nyata berbahaya bagi kesehatan tubuh.

Zat kimia pewarna, perasa palsu, pengawet, pemutih, pengabur, dan pengasam di dalamnya bisa memicu penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kanker, bahwa pikun. Yang lebih "menyebalkan", junk food mudah membuat perut kenyang, sehingga tak ada tempat lagi untuk makanan sehat.

"Junk food banyak mengandung karbohidrat dan lemak, sedangkan tubuh juga butuh berbagai zat gizi, vitamin, protein, serat, dan mineral," kata Fransiska di sela peringatan Hari Hak Konsumen Sedunia, Minggu lalu.

Bukan berarti juga junk food jadi barang haram. Mengkonsumsinya saja yang perlu dibatasi. Fransiska menetapkannya maksimal 10 persen dari total asupan makanan dalam sehari. "Misalnya memakan biskuit hanya dua potong, lalu ditambah sayur yang lebih banyak," katanya.

Joanne Larsen, dari situs Ask Dietitian, menyatakan setiap orang memiliki daftar makanan sampahnya sendiri-sendiri. Kriteria paling umum adalah penganan yang tinggi kadar garam, gula, lemak, atau kalorinya.
Dari kriteria itu, makanan ringan, permen, kue-kue pencuci mulut, gorengan cepat saji, dan minuman berkarbonasi adalah sumber utama junk food. Meski begitu, tidak ada gunanya juga bertindak radikal dengan mem-black list seluruh penganan ringan tersebut.

Jauh lebih bijaksana jika kita mencermati label nutrisi atau bahan penyusun setiap penganan. Supaya lebih mudah, cari saja dalam daftar itu komponen gula, lemak, atau garam sebagai prioritas. Kalau mereka tergolong tinggi dibanding yang lain, Anda bisa menganggapnya sampah.
l AQIDA SWAMURTI


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Tahun Ini Industri Manufaktur Stagnan
Pertumbuhan Industri Masih Lambat
Penjualan Makanan Minuman Anjlok 20 Persen
Penertibkan Produk Pangan Jangan Serampangan
Tahu POO Kediri Membantah Gunakan Kedelai Transgenik
Industri Makanan dan Tembakau Diperkirakan Tumbuh 4,5 Persen
Penjualan Produk Makanan Diperkirakan Naik 15 Persen
Produk Makanan dan Minuman Naik 5-15 Persen

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [1]
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119506 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

GELIAT SANG JAWARA
Boker Hidup Lagi!
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM
Pembantai Itu Hanya Diam
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data