Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Funisia, Spesies Pertama yang Kawin-Mawin
Selasa, 25 Maret 2008 | 10:17 WIB

TEMPO Interaktif, California: Mungkinkah perilaku kawin-mawin berasal dari sebuah masa 570 juta tahun lalu? Tim paleontolog yang sedang meneliti di Australia menunjuk ke masa itu lewat temuan fosil berupa hewan mirip sedotan di dasar laut.

Funisia dorothea--nama hewan purba itu--ditemukan berbonggol-bonggol, menancap rapat ke lantai laut dangkal berpasir yang kini dikenal sebagai kawasan busur belakang Australia. Usia setiap individunya yang sebaya dan dasar bonggol yang sama mendasari kesimpulan tim bahwa hewan-hewan yang tumbuh tegak sepanjang 30 sentimeter itu berasal dari penetasan telur yang simultan, bukan dari kelahiran aseksual yang tidak terkoordinasi.

Mary Droser, profesor paleontologi di Universitas California, yang memimpin ekskavasi funisia, menduga jenis hewan itu punah ketika badai mengangkat lantai laut dan menguburnya di dalam pasir. Masa itu tergolong masa Neoproterozoik, sebuah masa sepanjang 100 juta tahun yang berakhir 540 juta tahun lalu.

Berdasarkan usianya, funisia membentuk ekosistem hewan pertama yang paling dini di bumi. Funisia bertubuh lunak, tapi aman dari predator karena memang belum ada jenis hewan lainnya yang berkembang. Bahkan cacing dan hewan-hewan pengurai pun belum muncul.

"Secara umum, mereka tumbuh rapat satu sama lain, sebagian untuk memastikan kesuksesan reproduksi," kata Droser.

Perilaku itu, Rachel Wood dari Universitas Edinburgh menambahkan, mirip cara spora dan karang bereproduksi dan berkembang saat ini. "Fakta bahwa funisia terdiri atas paket-paket yang tumbuh rapat di lantai laut memungkinkan kami menyimpulkan kalau organisme ini bereproduksi secara seksual," katanya.

Dalam laporannya di jurnal Science, Droser, Wood, dan anggota tim lainnya belum mampu mengidentifikasi mulut funisia atau anatomi lainnya. Tapi yang sudah bisa dipastikan adalah perilaku seks funisia lebih bersifat fungsional daripada hubungan sosial. "Saya mungkin saja salah, tapi saya lebih suka berpikir mereka menikmatinya," katanya.

Droser memilihkan nama Dorothea untuk fosil temuannya itu dari nama ibunya, Dorothy Droser. Ibunyalah yang selama ini berperan mengasuh anak-anaknya ketika ditinggal meneliti, termasuk memasak untuk bekal sebuah ekspedisi. "Keluarga menganggapnya sebagai canda karena saya memiliki 11 cucu. Jelas sekali, reproduksi adalah hal baik untuk saya," kata Dorothy.
l TIMESONLINE | AP


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Organisme Baru Ditemukan Lagi di Teluk Manado

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk119751 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

GELIAT SANG JAWARA
Boker Hidup Lagi!
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM
Pembantai Itu Hanya Diam
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data