Manchester atau Chelsea

Jum'at, 28 Maret 2008 | 15:01 WIB

TEMPO Interaktif, : Buat yang suka sepak bola, Liga Primer Inggris, liga yang katanya paling seru di muka bumi saat ini, pada pekan-pekan akhir menyisakan persaingan antara klub Manchester United dan Chelsea. Keduanya hanya berselisih 5 poin. Chelsea, sang juara bertahan, mulai bangkit, sedangkan Manchester masih trengginas. Siapakah yang akhirnya akan menjadi kampiun tahun ini?

Tim peneliti di Universitas Plymouth dan Universitas Durham di Inggris punya jawabannya sendiri. Dua pekan lalu, lewat Journal of Sport Sciences, secara tidak langsung mereka menyebut Manchester yang lebih berpeluang. Mereka membuktikan secara akademis bahwa kesuksesan tim-tim sepak bola yang menggunakan kostum merah bukanlah kebetulan belaka.

Para peneliti antropologi itu menganalisis data seluruh klub di Liga Inggris sejak Perang Dunia II lalu. Hasilnya, mereka menemukan bahwa dalam setiap pertandingan, tim tuan rumah yang mengenakan kostum merah paling banyak menang atas tamu-tamunya.

Rekor kemenangan kandang terburuk didapati pada kesebelasan yang memilih kuning atau oranye sebagai warna kostum kebesarannya. Rekor atau data-data itu tidak menunjukkan perbedaan berarti ketika tim bersangkutan bertandang ke kandang lawan. Tetap, merah lebih banyak memenangkan pertandingannya.

Robert A. Barton, ketua tim peneliti, menduga ada sebuah dorongan psikologis ketika sebuah tim mengenakan kostum merah. Selain itu, warna ini memang sering dikaitkan dengan sifat agresivitas dan dominasi pria.

"Kami melihat beberapa penjelasan yang mungkin," kata professor dari Departemen Antropologi Universitas Durham, Inggris, itu. Pertama, ia menyebut faktor pendukung yang secara sadar ataupun tidak sadar semakin tertarik pada tim berkostum merah. "Sehingga klub memiliki dasar bagi pengembangan di tengah para pendukungnya," katanya.

Kemungkinan kedua, kata Barton, faktor dorongan positif secara psikologi dari mengenakan kostum merah yang terefleksi dalam permainan di lapangan. "Bertanding melawan sebuah tim berkostum merah juga bisa melumpuhkan kemampuan," katanya. Intinya, kostum merah bisa menambah rasa percaya diri dan mengintimidasi tim lawan.

Russell Hill, anggota tim peneliti dari Universitas Durham, menyatakan masuknya saham kepemilikan asing memang bisa membawa perubahan yang lebih baik terhadap sebuah tim, tak peduli apa warna kostumnya. Klub bisa membeli pemain-pemain bagus, sehingga lebih banyak pertandingan yang bisa dimenangkan.

"Meski begitu, dalam setiap pertandingan yang ketat dan berimbang, kami masih tetap memprediksi bahwa kostum merah akan tetap memberi peruntungan lebih kepada tim yang mengenakannya," katanya.

Bukan hanya dalam sepak bola, Barton dan Hill juga pernah membuktikan dominasi merah ini pada empat cabang olahraga, yakni tinju, taekwondo, gulat gaya Greco-Roman, dan gulat bebas. Saat itu Olimpiade 2004 dan setiap atlet dalam cabang olahraga tersebut tidak mengenakan kaus atau pelindung tubuh berdasarkan warna bendera nasional, melainkan bebas memilih merah atau biru.

Hasilnya, mereka yang mengenakan kaus atau pelindung tubuh merah memenangkan lebih banyak pertandingan secara signifikan. Secara keseluruhan, perbandingannya 16 dari 21 putaran atau babak yang digelar untuk keempat cabang olahraga itu menghasilkan lebih banyak pemenang dari sudut merah.

Hanya di cabang gulat yang persaingannya lebih seru dan berimbang. "Jika kamu memang pecundang, kaus merah tak akan bisa membantumu menghindar dari kekalahan dalam cabang ini," kata Barton empat tahun lalu.

Analisis juga dilakukan dalam ajang sepak bola Piala Euro pada tahun yang sama. Anomali itu pun terjadi. Setiap kesebelasan ternyata bisa bermain jauh lebih baik dan bahkan mencetak satu gol lebih banyak dalam setiap pertandingan ketika mengenakan kostum merahnya.

"Temuan-temuan ini mengikuti dugaan kami bahwa jika memakai merah, pasti ada efeknya," kata Profesor Martin Attrill dari Universitas Plymouth.

l BBC | PLYMOUTH | NEWSCIENTIST | FOOTBALLSHIRTCULTURE | DURHAMTIMES

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :