Kecil-kecil Cabe Rawit

Sabtu, 05 April 2008 | 11:05 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kecil itu tak mesti mini fungsinya. Lihat saja camcorder terbaru buatan Sony, HDR-TG1, yang diluncurkan baru-baru ini. Ukurannya mungil dan pas di saku.

Secara dimensi, ia memiliki ukuran 1,3 x 4,7 x 2,5 inci. Bobotnya pun hanya satu ons. Ia begitu pas di genggaman tangan saat digenggam dalam posisi vertikal, plus layar yang terbuka.

Desain mini ini cocok bagi mereka yang gemar bertualang atau pelesir. Namun, sebagai perlengkapan rumah yang bisa dipakai mengabadikan kegiatan keluarga, ia pun cocok.

Tubuhnya terbuat dari material titanium yang kuat serta pelapis yang keras. Di alam bebas, camcorder ini antigores. Di rumah, ia adalah camcorder yang memiliki tampilan stylish dengan warna perak mengkilap.

"Sony pertama kali memperkenalkan camcorder khusus traveling dengan teknologi 8 milimeter ini pada era 1980, dan ia merevolusi industri perjalanan dan elektronik," kata Kelly Davis, Direktur Camcorder Marketing Sony Electronics. "Model baru ini adalah contoh bagus dari keahlian kami dalam meminiaturkan, dilengkapi dengan teknologi imaji yang maju seperti pendeteksi wajah."

Camcorder ini sanggup merekam video dengan resolusi berdefinisi tinggi, 1080p 1080i. Ia juga bisa merekam foto still dengan resolusi 4 megapiksel. Itulah sebabnya, Sony menjulukinya high definition camcorder terkecil pertama di dunia.

Teknologi lensanya dipercayakan pada Carl Zeiss Vario-Tessar, yang sanggup melakukan pembesaran optik sampai 10 kali. Ia pun dilengkapi teknologi Exmor untuk mendukung sensor ClearVid CMOS 2 megapiksel, yang bisa meminimalkan noise pada gambar.

Kebersihan gambar juga dijamin mesin processing BIONZ, selain menyajikan kecepatan processing. Mesin BIONZ akan menyesuaikan kondisi kelebihan atau kekurangan cahaya, sehingga hasil rekaman dan jepretan kamera ini tetap jernih.

Ia juga menggabungkan teknologi pendeteksi wajah baik pada fitur video maupun kamera digitalnya. Panel layar sentuh LCD 2,7 incinya sanggup mendeteksi delapan wajah. Secara otomatis pula ia bisa menyesuaikan fokus, exposure, dan kontrol warna untuk menampilkan warna kulit asli, dan kontrol lampu kilat saat camcorder difungsikan.

Teknologi ini sebelumnya sudah diadopsi pada jajaran kamera digital buatan Sony, Cyber-shot. Ia mengalokasikan lebih banyak encoding bits agar bisa mendeteksi wajah secara akurat, demi hasil yang mendekati kenyataan.

Sektor audio didukung teknologi Dolby Digital 5.1 dengan suara surround. Ia pun dilengkapi mikrofon built-in sehingga suara dari obyek rekaman bisa langsung disimpan.

Meski mengandung teknologi tinggi, HDR-TG1 mudah dioperasikan. Tombol-tombolnya gampang diakses. Satu-satunya hal yang mengganjal pada camcorder ini adalah "pemaksaan" Sony dalam penggunaan kartu memori. Perusahaan asal Jepang itu mem-bundle camcorder ini dengan kartu memori Stick, MS Pro Duo atau Pro Du, yang berkapasitas 4 gigabita. Kolumnis di situs Gizmodo menilai "pemaksaan" ini tak tepat lantaran kartu memori itu tak begitu populer.

Namun, Sony bak anjing menggonggong kafilah berlalu. Camcorder ini akan dilepas ke pasar pada bulan depan, meski pemesanan sudah bisa dilakukan di toko retail online Sony (www.sonystyle.com/retail) mulai kemarin. Harganya US$ 900 atau sekitar Rp 8,4 jutaan.


| DEDDY SINAGA | ENGADGET | GIZMODO | SONY | WIKIPEDIA






Komentar Anda

Kirim