Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Dari Perut Sapi ke Jagung
Jum'at, 11 April 2008 | 15:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Enzim dari sejenis mikroba yang hidup dalam perut sapi ternyata menjadi kunci untuk mengubah tanaman jagung menjadi bahan bakar. Para ilmuwan Michigan State University menemukan bahwa enzim itu memungkinkan sapi mencerna rerumputan dan serat tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengubah serat menjadi gula sederhana. Nah, gula sederhana ini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan etanol bagi kendaraan.

Kini para peneliti menemukan cara untuk menghasilkan tanaman jagung yang mengandung enzim tersebut. Mereka memasukkan gen dari bakteri yang hidup dalam perut sapi ke dalam tanaman jagung. Kini, gula yang terkunci di dalam daun dan batang tanaman bisa diubah menjadi gula berguna tanpa memerlukan bahan kimia sintetis yang mahal. "Kenyataan bahwa kita bisa mengambil gen pembuat enzim dalam perut sapi dan memindahkannya ke dalam sel tumbuhan berarti kita bisa mengubah sampah menjadi biofuel," kata Mariam Sticklen, profesor ilmu tanah dan pertanian.

Penemuan ini disampaikannya pada pertemuan American Chemical Society ke-235 di New Orleans, Rabu lalu. Studi itu juga dipublikasikan dalam artikel "Rekayasa Genetik Tumbuhan untuk Produksi Bahan Bakar Nabati: Menuju Etanol Selulosa Murah" pada Nature Review Genetics edisi Juni.

Sapi, dengan bantuan dari bakteri, mengubah serat tumbuhan (selulosa) menjadi energi. Prosesnya memang sederhana, tapi ini langkah besar bagi produksi biofuel. Industri biofuel komersial yang ada sekarang ini biasanya masih memakai cara tradisional, hanya menggunakan biji jagung sebagai bahan etanol. Namun, temuan baru ini memungkinkan seluruh bagian tanaman dimanfaatkan, sehingga lebih banyak bahan bakar yang dihasilkan dengan ongkos lebih rendah.

Mengubah serat tanaman menjadi gula membutuhkan tiga enzim. Varietas baru jagung yang diciptakan untuk menghasilkan bahan bakar nabati ini disebut Spartan Corn III, yang dikembangkan dari varietas Sticklen dengan menambahkan ketiga enzim.

Versi pertama, yang dirilis pada 2007, memotong selulosa menjadi potongan besar dengan enzim dari mikroba yang hidup di sumber air panas. Spartan Corn II, dengan gen dari jamur, mengubah potongan selulosa besar yang diciptakan oleh enzim pertama dan memecahnya menjadi pasangan gula.

Spartan Corn III, dengan gen dari mikroba perut sapi, menghasilkan enzim yang memisahkan pasangan molekul gula menjadi gula sederhana yang siap difermentasi menjadi etanol. Ini berarti ketika selulosa dalam bentuk gula sederhana, dia bisa difermentasi menjadi etanol. "Ini akan menghemat uang dalam produksi etanol," kata Sticklen. "Tanpa ini, mereka tidak bisa mengubah sampah menjadi etanol tanpa membeli enzim, yang mahal harganya."

l SCIENCEDAILY


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Hidup Kiri!
Gunung Berapi di Venus
Lampu Rem Pintar
Anglerfish Aneh
Hujan Berlebihan Turunkan Produksi Susu
Jurus Tai Chi Tangkal Diabetes
Terbang ke Bulan, Selamanya
Manchester atau Chelsea
Padang Garam di Mars
Nyamuk Saba Kota
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk121056 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data