Gajah Pygmy Datang dari Jawa
Sabtu, 19 April 2008 | 12:47 WIB
TEMPO Interaktif, KUALA LUMPUR:
Para peneliti itu yakin gajah pygmy jauh lebih kecil dan lebih jinak dibanding sepupunya yang ditemukan di Asia. "Gajah Kalimantan yang menjelajah hutan ini ada kemungkinan adalah sisa terakhir subspesies yang telah punah di daerah asalnya, Pulau Jawa, berabad-abad yang lalu," kata Shim Phyau Soon, bekas ahli rimba Malaysia, kemarin. "Gajah dikirim dengan kapal dari berbagai tempat di Asia ratusan tahun lampau, biasanya sebagai hadiah di antara para penguasa."
Gagasan tentang asal-usul gajah kerdil yang diungkapkan Shim ini menjadi inspirasi bagi WWF untuk melaksanakan riset terbarunya. Para ilmuwan sudah lama penasaran soal sumber gajah pygmy ini serta bagaimana mereka cuma ditemukan di wilayah tertentu di Pulau Kalimantan yang luas. Diperkirakan populasi gajah itu di alam hanya 1.000 ekor, kebanyakan ditemukan di negara bagian Sabah, Malaysia.
WWF mengatakan studi mereka tidak menemukan bukti arkeologis bahwa gajah sudah hidup dalam jangka waktu lama di pulau itu. Bukti ini menguatkan teori bahwa mereka dibawa ke sana oleh seorang sultan di Sulu, yang kini menjadi bagian dari Filipina. "Cuma seekor betina dan jantan yang produktif, tapi jika dibiarkan tak terganggu di habitat yang lumayan bagus, secara teori mereka bisa berkembang menjadi sebuah populasi besar yang mencapai 2.000 gajah dalam waktu kurang dari 300 tahun," kata Junaidi Payne, peneliti WWF yang terlibat dalam riset ini. "Mungkin itulah yang terjadi di sini."
Gajah kerdil ini baru diidentifikasi sebagai subspesies baru pada 2003 setelah tes DNA menunjukkan perbedaan secara genetik. Secara keseluruhan, gajah pygmy terlihat lebih bulat. Tinggi gajah jantannya cuma 2,5 meter, lebih pendek dibandingkan gajah daratan Asia yang tingginya sekitar 3 meter. Mukanya lebih kecil dan lebih persegi, ekornya lebih panjang--hampir mencapai tanah--serta gadingnya lebih lurus.
Perbedaan utama lainnya adalah temperamennya yang baik, lebih tenang dibanding gajah Asia, yang memang dikenal lebih kooperatif dan bisa bekerja sama dibanding subspesies gajah Afrika.
WWF mengatakan pelacakan dengan satelit memperlihatkan bahwa mamalia besar itu menyukai habitat dataran rendah yang kini banyak diubah menjadi perkebunan karet dan kelapa sawit. "Jika mereka benar-benar datang dari Jawa, kisah yang menakjubkan ini menunjukkan betapa bernilainya upaya untuk menyelamatkan populasi sekecil apa pun dari spesies tertentu yang kerap dianggap sudah punah," kata Christy Williams, koordinator program gajah Asia dan badak WWF.
Kemungkinan besar ini mendorong semangat para ilmuwan untuk mengusulkan upaya perlindungan terhadap populasi kecil badak Sumatera dan badak Jawa yang masih tersisa. "Kami akan melakukan translokasi beberapa ekor ke habitat yang lebih baik untuk meningkatkan jumlah mereka," kata Williams. "Program itu terbukti berhasil pada badak putih Afrika Selatan serta badak India, dan kini kita mungkin melihat hal yang sama terjadi pula pada gajah Jawa."
tjandra | AFP




Komentar Anda :