Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Gajah Dulunya Amfibi
Kamis, 24 April 2008 | 12:36 WIB

TEMPO Interaktif, OXFORD:

Sebelumnya, para peneliti memang telah mengetahui adanya hubungan kekerabatan antara gajah dan mamalia air tertentu. "Kami mengetahui dari data molekulernya, gajah modern memiliki nenek moyang yang sama dengan sirenian, golongan dugong dan sapi laut akuatik," kata Alexander Liu dari Departemen Ilmu Kebumian di Oxford, peneliti utama laporan yang dipublikasikan secara online ini dalam PNAS.

Data itu memperlihatkan gajah ada kemungkinan memiliki leluhur yang bisa hidup di dua alam. "Kami ingin tahu apakah Moeritherium dan Barytherium termasuk kerabat nenek moyang yang semiakuatik ini," kata Liu. "Sayangnya, cuma potongan tulang rangka dari gajah purba ini yang tersisa. Alhasil, daripada meneliti tulangnya, kami mencarinya pada komposisi kimia di gigi mereka untuk menentukan apa yang dimakan dan bagaimana mereka hidup."

Alex Liu--bersama rekannya, Erik Seiffert dari Stony Brook University dan Elwyn Simons dari Duke Lemur Center, keduanya dari Amerika Serikat--menganalisis rasio isotop karbon dan oksigen yang terkandung dalam email gigi kedua proboscidean yang telah punah itu. Isotop karbon memberikan petunjuk tentang makanan binatang, sedangkan isotop oksigen yang ditemukan dalam gigi berasal dari sumber air setempat dan variasi rasio isotop tersebut mengindikasikan tipe lingkungan tempat binatang itu hidup.

Mereka membandingkan rasio isotop itu dengan binatang darat dari periode yang sama. Ketika hasil perbandingan itu digabungkan dengan hasil studi embriologi, data molekuler, dan sedimentologi, para peneliti semakin yakin bahwa Moeritherium adalah binatang semiakuatik. "Kini kami mempunyai bukti kuat untuk menyatakan gajah modern memang memiliki leluhur yang hidup di air," ujarnya. "Langkah berikutnya adalah melakukan analisis serupa terhadap nenek moyang gajah lainnya guna mengetahui kapan peralihan dari air ke darat terjadi, juga mengetahui secara pasti kapan sirenian yang kini sepenuhnya hidup di air beralih dari kerabatnya, proboscidean, yang semiakuatik."

tjandra | sciencedaily


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122431 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data