Vaksin Baru Flu Burung

Kamis, 24 April 2008 | 12:42 WIB

TEMPO Interaktif, West Lavayette :

Berbeda dengan vaksin influenza saat ini, vaksin baru ini dapat diproduksi dengan cepat dan disimpan dalam jangka waktu lama. "Sehingga dapat disiapkan untuk menghadapi pandemi yang disebabkan oleh virus avian influenza, H5N1, dan variannya," kata Suresh Mittal, ahli virologi Purdue, pekan lalu.

Dalam eksperimennya, Mittal dan timnya menemukan bahwa vaksin itu melindungi tikus terhadap invasi H5N1 selama setahun, bahkan lebih. Namun, karena baru diujicobakan pada tikus, belum diketahui apakah vaksin itu mampu menunjukkan perlindungan yang sama terhadap manusia. "Kami ingin menghasilkan vaksin yang bisa disimpan lama dan memiliki potensi memberikan perlindungan selama beberapa waktu sampai kami dapat mengubah vaksin itu untuk menyesuaikannya dengan bentuk avian influenza terbaru," kata Mittal. "Kombinasi gen flu yang kami gunakan untuk memproduksi vaksin ini kami perkirakan bisa mendukung ke arah itu."

Vaksin yang tahan lama dan memberi perlindungan terhadap segala jenis virus flu burung memang amat penting karena bisa memberi proteksi silang terhadap virus baru. Mutasi virus H5N1 yang ada sekarang ini berpotensi memicu pandemi. Vaksin temuan Mittal dan timnya ini akan memberi waktu lebih lama bagi para peneliti untuk mengembangkan vaksin yang lebih baik yang cocok dengan bentuk terbaru flu burung.

Mittal dan timnya, termasuk Suryaprakash Sambhara, peneliti utama CDC dalam proyek tersebut, melaporkan temuan mereka dalam The Journal of Infectious Diseases edisi 15 April lalu. "Kami menginginkan sebuah vaksin yang efektif selama setahun bagi manusia," kata Mittal, profesor patobiologi komparatif. "Saat ini kami belum tahu berapa lama vaksin ini bertahan dalam tubuh manusia."
Untuk menghasilkan vaksin baru ini, para ilmuwan menggunakan virus flu biasa yang bermutasi, yang disebut adenovirus, sebagai sistem pengantar untuk gen-gen penting dari dua tipe H5N1. Adenovirus tidak mampu menggandakan diri sehingga tidak dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Dengan menggunakan teknologi vektor adenovirus ini, para ilmuwan berhasil memecahkan masalah pada vaksin flu yang ada sekarang.

Masalah pada vaksin influenza saat ini antara lain karena vaksin dibuat dari telur, sebuah proses yang perlu waktu sampai enam bulan. Vaksin yang dikembangkan Mittal dan tim risetnya tidak ditumbuhkan dalam telur sehingga produksi vaksin jauh lebih cepat.

Dalam kondisi normal, akan amat sulit menghasilkan ratusan juta dosis vaksin untuk melindungi setiap orang yang berisiko tertular virus yang amat mematikan ini. Sejak dimulainya pandemi, virus H5N1 membinasakan sebagian besar populasi unggas, suplai telur yang dibutuhkan untuk memproduksi vaksin pun berkurang drastis.

Vaksin baru ini memakai adjuvant, molekul tambahan pada vaksin yang akan merangsang sistem kekebalan tubuh, sehingga vaksin dosis rendah bisa digunakan. Adjuvant juga memungkinkan penimbunan vaksin sehingga lebih banyak orang bisa divaksinasi, dan membantu pencegahan munculnya varian baru H5N1. Satu-satunya vaksin H5N1 yang telah disetujui Badan Pengawas Pangan dan Obat Amerika hanya menangkal strain flu tertentu dan efektivitasnya hanya 60 persen dari orang yang diimunisasi dengan dosis tinggi.

tjandra | sciencedaily

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :