Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Kulit Tikus Mendeteksi Oksigen
Jum'at, 25 April 2008 | 12:34 WIB

TEMPO Interaktif, Los Angeles:

Temuan tim ilmuwan biologi dari Universitas California, Amerika Serikat, ini amat mengejutkan. Selama ini pengetahuan umum tentang kulit mamalia menyebut kulit sekadar pembungkus tubuh dan tidak memiliki koneksi kuat dengan sistem pernapasan tubuh. "Ini sesuatu yang tidak biasa," kata Randall Johnson, ketua tim peneliti. "Kami menemukan kulit mamalia, setidaknya dalam contoh tikus, merespons kadar oksigen yang tersedia di udara dan lantas mengubah aliran darah lewat kulit."

Hal ini berujung respons paling dasar tubuh terhadap kadar oksigen rendah, yaitu perubahan produksi erythropoietin. Respons ini, kata para peneliti, bisa jadi sudah lama ada mengingat mamalia berevolusi dari hewan vertebrata strata rendah, seperti amfibi, yang memiliki semacam saluran ion untuk menaikkan penyebaran oksigen di kulit, seperti yang dimiliki mamalia lewat paru-paru mereka.

"Hewan amfibi--terutama katak--bernapas lewat kulit mereka dan dapat mendeteksi serta merespons level oksigen di udara dan air di sekitar mereka," ujar Johnson. "Tapi tidak pernah ada yang menduga kemampuan serupa juga dimiliki oleh mamalia."

Menurut profesor biologi dari Universitas California itu, dari sudut pandang evolusi, hasil studi ini sebenarnya masuk akal mengingat peranan penting pemasukan oksigen lewat kulit bagi hewan amfibi. "Sangat menarik melihat bagaimana mekanisme ini bekerja bagi adaptasi manusia dan hewan dalam lingkungan sulit oksigen," ujarnya.

Tim peneliti tidak menemukan bukti bahwa tikus dapat bernapas degan kulit mereka. Tapi jika kemampuan deteksi kadar rendah oksigen dan memicu produksi EPO juga ditemukan pada manusia, hal ini akan berimplikasi dramatis terhadap upaya pengobatan anemia dan penyakit lainnya, yang memerlukan peningkatan kemampuan tubuh untuk memproduksi sel darah merah. Hal ini dapat pula meningkatkan performa atlet ketika berkompetisi di Olimpiade musim panas atau musim dingin.

amal ihsan | sciencedaily


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122430 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Rebutan Treayek, Sopir Mogok
Truk Terperosok, Pencuri 330 Rol Kain Tertangkap
TNI Harus Bicara Tentang Kerusuhan Mei
Jalan Propinsi Belum Diperbaiki
Kelangkaan Elpiji di Lampung Diduga Akibat Penimbunan

<< April,2008>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data