Yang 'Ngejos' tapi Maut
Rabu, 30 April 2008 | 12:12 WIB
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:
Jantan mutan ini bersaing dengan jantan normal dalam memperebutkan betina. Jika serangga betina kawin dengan jantan mutan, ia tidak akan bisa memproduksi telur dan larva sehingga generasi baru serangga berkurang. Pelepasan rutin jutaan serangga jantan steril bisa memusnahkan seluruh populasi.
Cara ini bisa memberantas populasi lalat screw-worm di Amerika Serikat, Venezuela, Meksiko, Guatemala, Panama, dan Belize, juga beberapa jenis lalat lain dan nyamuk malaria di Israel, Karibia, Selandia Baru, dan Sub-Sahara Afrika. Tapi cara ini gagal memusnahkan nyamuk Aedes aegypti.
Kegagalan itu terjadi karena radiasi yang dipakai mensterilisasi nyamuk jantan membuat jantan mutan menjadi loyo dan lemah sehingga tidak mampu bersaing dengan jantan normal. Cara yang dikembangkan Oxitec (Oxford Insect Technologies) sedikit lebih maju. Dikenal dengan nama RIDL (release of insects carrying a dominant lethal) atau pelepasan serangga dominan mematikan.
Dengan teknik baru ini, Aedes tidak diradiasi, tapi disusupi gen mematikan. Nyamuk mutan tidak mati karena diberi zat aditif internal lewat makanan. Nyamuk juga diberi penanda genetik, seperti fluorescence, sehingga mudah dipantau oleh peneliti.
Cara baru ini juga tidak membuat nyamuk menjadi loyo, sebaliknya menjadi gagah dan "ngejos" sehingga menarik betina. "Buktinya, hasil laboratorium menunjukkan, lebih dari 50 persen betina memilih jantan mutan dibanding jantan normal," kata Kepala Divisi Kesehatan Publik Oxcitec Seshadri S. Vasan.
amal ihsan | berbagai sumber




Komentar Anda :