Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Sangarnya Nargis
Rabu, 07 Mei 2008 | 16:05 WIB

TEMPO Interaktif, : Sungguh dahsyat badai siklon Nargis, yang menghantam Burma akhir pekan lalu. Belasan ribu orang dipastikan tewas dan ratusan ribu lainnya mendadak kehilangan tempat tinggal dan sumber air bersihnya.
Badai supersiklon seperti ini bukan baru. Di India, misalnya, pada 1999, badai itu menewaskan sampai 10 ribu warga setempat. Atau pada Oktober 1998, yang mengubur 18 ribu jiwa di Amerika Tengah dan 140 ribu jiwa lainnya di Bangladesh pada 1991.
Siklon tropis seperti yang menerjang Burma dan banyak daerah lainnya itu adalah sebuah sistem pusat tekanan rendah. Berbekal uap air yang melimpah dari laut, sistem itu mampu membangkitkan energi hingga 10 kali lebih besar daripada energi yang dilepaskan bom atom di Hiroshima.
Di Asia, gejala cuaca yang satu ini dikenal sebagai taifun. Di Barat, ia adalah hurikan. Nama boleh beda, tapi mereka tumbuh dengan gelagat yang sama, yakni ketika suhu muka laut naik paling sedikit menjadi 27 derajat Celsius sampai ke kedalaman 80 meter.
Muka laut yang menghangat itu harus berkombinasi dengan suhu massa udara di lapisan atmosfer atasnya yang dingin untuk bisa menggerakkan uap air dari muka laut menjadi sumber energi untuk sebuah pusaran angin.
Siklon memang tak lain badai yang berotasi di sekitar pusat tekanan rendah. Setelah tumbuh dari laut, ia akan "menendang keluar" angin berkecepatan lebih dari 120 kilometer per jam. Ulahnya yang menyedot sejumlah besar air juga sering kali ditumpahkan kembali dalam bentuk hujan lebat.
Buntutnya, angin kencang plus tanah longsor dan banjir akan menyeret jiwa-jiwa dan meluluhlantakkan infrastruktur seperti yang kali ini terjadi di Burma.
Siklon tentu saja berbeda dengan tornado. Meski sama-sama merupakan pusaran angin--yang pusat atau matanya relatif tenang--yang terakhir ini dibangkitkan oleh badai konvektif tunggal dan diameternya hanya ratusan meter. Bandingkan dengan hurikan, yang bisa terdiri atas puluhan badai konvektif dengan diameter mencapai ratusan kilometer. Puluhan badai itu bisa bertahan dua sampai tiga minggu, tapi akan melemah cepat ketika menyentuh daratan atau lautan yang lebih dingin. l afp


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Badai Durga Masih Mengancam Nelayan
Kapal Kontainer Terjebak di Pulau Bawean
Badai Nikolas Melanda Mataram
Korban Badai Nikolas Bertambah
Pelayaran Diminta Waspadai Badai Helen
La Nina Ancam Produksi Pangan 2008
Cuaca Buruk Landa Kota Baubau
Gelombang Pasang Setinggi 5 Meter Hantam Cilincing
Topan Mitag Melanda Filipina Utara
1.000 Nelayan Bangladesh Ditelan Badai
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk122668 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

TNI Harus Bicara Tentang Kerusuhan Mei
Jalan Propinsi Belum Diperbaiki
Kelangkaan Elpiji di Lampung Diduga Akibat Penimbunan
2,7 Juta Orang Lanjut Usia Terlantar
Pengurus Golkar Sulawesi Tenggara Dibekukan

<< May,2008>>
MSnSl RK JS
    01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data