Melindungi Kepak Sayap Monarch

Rabu, 16 Juli 2008 | 13:46 WIB

TEMPO Interaktif, MEXICO CITY:
-- Bagi penduduk Mexico City, kupu-kupu Monarch bukan sekadar serangga pengisap madu yang membantu penyerbukan bunga. Serangga elok ini mempengaruhi cara hidup mereka bagai jam alami yang menandai berakhirnya dan awal cara hidup yang baru.

Di musim semi, ketika kupu-kupu itu pergi, masyarakat setempat tahu itulah saatnya menanam. Ketika kupu-kupu itu kembali di akhir musim gugur, tiba waktunya untuk panen dan perayaan besar.

Migrasi kupu-kupu Monarch (Danaus plexippus) adalah salah satu fenomena alam paling spektakuler di dunia. Ketika lebih dari 200 juta kupu-kupu bersayap jingga dengan strip hitam ini terbang 5.470 kilometer dari Kanada dan Amerika Utara ke selatan menuju pegunungan Meksiko tengah. Mereka adalah satu-satunya spesies kupu-kupu yang bermigrasi sejauh itu.

Ketika tiba di Meksiko, gerombolan kupu-kupu itu mengubah warna pohon fir yang selalu hijau menjadi jingga, bahkan membuat dahan-dahan pohon melengkung ke bawah karena berat ratusan kupu-kupu yang hinggap bersama-sama. Ketika musim semi tiba, kupu-kupu ini memulai misi migrasinya selama delapan bulan ke Kanada dan kembali lagi. Selama itu, empat generasi lahir dan mati.

Bagaimana mereka menemukan jalan kembali ke Meksiko masih menjadi misteri. Meski ada beberapa ilmuwan yang menyatakan mereka menggunakan posisi matahari dan medan magnetik bumi sebagai pemandu.

Keunikan itulah yang menjadi salah satu alasan bagi komite Warisan Dunia di Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan cagar biosfer kupu-kupu Monarch di Meksiko sebagai salah satu warisan alam dunia pada 7 Juli lalu. Itu berarti biosfer yang terdiri atas hutan pegunungan seluas 56.259 hektare, 100 kilometer barat laut Mexico City sebagai kawasan yang harus dilindungi sebagai warisan dunia bagi generasi mendatang. Pemerintah Meksiko, tempat situs itu berada, bertanggung jawab melindunginya.

Namun, para pencinta lingkungan khawatir keputusan itu tidak bisa menghentikan deforestasi di pegunungan Sierra Magre, yang mengancam kehidupan kupu-kupu itu. "Daftar itu tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali ada rencana integral bagi cagar tersebut," kata environmentalist Meksiko, Ivan Restrepo. "Saya berharap daftar ini dianggap sebagai alarm yang membangunkan kesadaran dan bukan dilihat sebagai iklan turisme."

Pemerintah Mexico mengatakan keputusan PBB itu memberikan harapan baru bagi upaya mempertahankan hutan fir lebat yang memberikan naungan bagi Monarchs dari dinginnya salju di Amerika Utara. Ernesto Enkerlin, anggota Komisi Kawasan Dilindungi Mexico City, menyatakan bahwa masalah penggundulan hutan terbatas pada beberapa komunitas pertanian kecil yang menduduki enam persen dari total luas cagar itu. Namun, tiap tahun cagar biosfer itu kehilangan sekitar 100 hektare hutannya.

Dia mengakui kejadian itu adalah sebuah bencana karena banyak dari wilayah itu yang dipangkas habis. Tapi pepohonan mulai tumbuh kembali dengan bantuan penduduk lokal. "Kami memasuki fase baru cagar kupu-kupu Monarch, satu tahap pemulihan," katanya.

Rumitnya, bukan cuma penggundulan hutan yang mengancam habitat kupu-kupu itu. Perselisihan tapal batas, isu penduduk asli, dan persaingan lokal turut mempersulit pemerintah mengelola kawasan tersebut.

Homero Aridjis, wakil Mexico di UNESCO, menyatakan bahwa pemerintah akan berupaya lebih keras untuk melindungi tempat berlibur kupu-kupu Monarch itu. Dia berharap terdaftarnya cagar biosfer itu dalam warisan dunia UNESCO bisa membantu meningkatkan arus turis ke kawasan itu, sehingga memberikan insentif keuangan bagi upaya perlindungan. "Itu mungkin juga membantu mengubah perilaku petani setempat yang lahannya masuk wilayah cagar," ujarnya.

TJANDRA DEWI | AP | WHC.UNESCO | MONARCHBUTTERFLY






Komentar Anda

Kirim