Berkah di Kutub Utara (Bencana di Dunia)

Selasa, 22 Juli 2008 | 12:50 WIB

TEMPO Interaktif, Arktik: Mungkin ini sisi positif dari pemanasan global kalau memang sisi itu ada: terkelupasnya lapisan es di Kutub Utara (Arktik) telah mengungkap kekayaan tambang minyak, gas, dan mineral yang sangat berharga.

Pucuk Bumi di utara itu kini bak tanah perawan yang sangat menggoda. Ratusan miliar dolar kekayaan alam yang mulai tersembul-sembul dari balik lapisan esnya yang terus menipis dan menyempit telah membuat banyak negara tak kuasa menahan liurnya.

Kalau dulu perusahaan minyak, misalnya, harus berpikir berkali-kali sebelum menanam rig di lepas pantai Laut Barents yang beku, kini mereka malah bisa menjelajah lebih jauh ke utara. Mereka menjadi 'gila' oleh ramalan Badan Survei Geologi Amerika Serikat yang pernah menyebut harta karun berupa seperempat cadangan minyak dan gas bumi ada di sana.

Temuan-temuan sampel dasar laut yang mengindikasikan kekayaan migas memang mulai bersemi, namun yang paling spektakuler adalah temuan intan 2,4 karat. Perusahaan tambang Kanada, Hudson Resources, adalah pihak yang menemukannya di kawasan bernama Danau Garnet, dekat Kangerlussuaq, Greenland.

Batu berharga ini seakan membuka jalan bagi puluhan perusahaan tambang lainnya untuk berbondong-bondong datang ke pulau yang 81 persen wilayah es-nya terus berkurang dari tahun ke tahun itu. Tahun lalu saja, penguasa setempat menerbitkan 78 izin eksplorasi mineral untuk 30 perusahaan.

Yang dicari oleh perusahaan-perusahaan itu bukan cuma minyak atau intan. Mereka juga mengincar emas, seng, timah, perak, zirkon, dan mineral lainnya yang ada dalam tabel unsur kimia buku pelajaran SMA.

Mencair dan menipisnya lapisan es kutub juga membuka kotak harta lainnya seperti rute pintas pelayaran. Para perusahaan operator kapal bisa bersorak karena untuk jalur Tokyo-London, misalnya, mereka tidak perlu lagi memutar seperti biasanya. Es yang mencair membuat mereka bisa mengambil jalan yang lebih pendek 40 persen.

Para nelayan juga akan menengadahkan tangan dengan terbukanya daerah tangkapan ikan salmon dan ikan komersial lainnya yang baru. Satu lagi, kota pelabuhan macam Thule di Greenland pun ikut berdandan menyambut semakin banyaknya kapal dan pendatang yang akan singgah. "Greenland telah menjadi Klondike (tambang emas di Alaska) modern," kata seorang pilot pesawat carteran tentang perubahan yang dilihatnya dari udara dalam lima tahun terakhir.

Kalau Greenland berbenah, Hammerfest di Norwegia justru semakin ramai oleh pendatang. Kota paling utara di Bumi itu mulai diperhitungkan para insinyur muda. Mereka datang dari kota lain di Norwegia, Finlandia, Rusia, Amerika Utara, dan Asia menuju Snohvit (atau dalam bahasa Inggris berarti Salju Putih), sebuah terminal raksasa untuk penyulingan dan pengapalan gas alam dari Laut Barents.

Di tempat itu pula Institut Kutub Norwegia mengungkapkan bahwa bakal lebih banyak lagi perusahaan yang akan datang untuk berinvestasi. "Berkali-kali mereka bertanya kepada kami tentang kelayakan menambang lebih ke utara lagi dari Laut Barents, bahkan dari Spitsbergen di Svalbard," kata Jan-Gunnar Winther, Direktur Institut.

Manusia memang tetap manusia. Ketika beruang kutub menggelepar karena habitat esnya tergerus, mereka tetap berusaha mencari keuntungan. Mereka bahkan tidak peduli kalau es yang mencair juga bisa berarti bencana bagi manusia di belahan dunia yang lain.

"Dengan kandungan minyak di Arktik, kita bisa menyaingi OPEC," ujar Christopher Weafer, analis energi di Moskow.

Tapi, kalaupun ada orang yang bisa dibilang paling beruntung dengan mencairnya es di kutub, orang itu mungkin adalah Pat Broe dari Denver, Amerika Serikat. Pengusaha jaringan rel kereta api yang berkibar dengan perusahaannya, OmniTrax, itu 11 tahun lalu membeli lewat lelang pelabuhan Hudson Bay di Churchill, Manitoba, Kanada, seharga tujuh dolar Kanada atau Rp 63 ribu.

Fakta bahwa luasan es di Arktik pada musim panas tahun ini mencapai rekornya yang terkecil tentu membuat kedua matanya berbinar-binar. Dia sudah berhitung, jika lalu lintas kapal ke Churchill dari Murmansk, Rusia, atau sebaliknya menjadi terbuka selama 8-10 bulan dibanding biasanya yang hanya 4 bulan setiap tahunnya, keuntungan yang mencapai Rp 900 miliar bisa direguknya setiap tahun.

Wuragil/berbagai sumber

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :