Pertanian di Atas Langit
Rabu, 23 Juli 2008 | 13:31 WIB
TEMPO Interaktif, NEW YORK: -- Dickson Despommier sama sekali bukan arsitek. Pekerjaan sehari-harinya adalah melakukan riset parasitisme intraseluler di laboratorium dan mengajar di sebuah perguruan tinggi tentang bahaya penyakit yang ditularkan parasit. Namun visi pertanian vertikal yang dicetuskan pakar mikrobiologi di Columbia University itu menjadi inspirasi bagi sejumlah arsitek.
Gagasan membangun sebuah pertanian yang menjulang ke langit ini bermula ketika Despommier berusaha mengendalikan siklus cacing parasit yang menular melalui tanah dan pertanian. Sejak saat itulah dia memutuskan meninggalkan laboratoriumnya dan fokus pada cara menghasilkan bahan pangan tanpa merusak lingkungan, yang biasanya terjadi akibat kegiatan pertanian.
Berangkat dari sebuah proyek mengukur pengaruh perkebunan atap di Kota New York untuk mengurangi pemanasan, profesor kesehatan masyarakat itu mulai mengembangkan konsep pertanian vertikal. Bersama para mahasiswanya, Despommier mendesain sebuah pertanian vertikal di Kota New York, yang dapat menghasilkan kalori yang cukup (2.200 untuk tiap orang) untuk populasi sebesar 50.000 orang.
Konsep pertanian vertikal yang digagasnya itu berupa gedung mandiri atau jaringan gedung yang saling berhubungan di sebuah kota modern yang dapat menghasilkan makanan dan membantu pengolahan air bagi populasi masyarakat kota. Despommier menyebut konsep ini sebagai upaya menekan efek negatif perkembangan populasi urban bagi lingkungan.
Lokasi pertanian di tengah kota memang menjadi fokus konsep ini, karena separuh populasi dunia tinggal di perkotaan. Pada 2050, populasi dunia akan mencapai lebih dari 9 miliar orang, dan hampir 80 persennya tinggal di dekat pusat kota. "Berapa banyak lahan baru dan hutan yang harus dibuka untuk memproduksi makanan yang cukup untuk memberi mereka makan?" kata Despommier. "Jika kita tidak melakukannya, dalam 50 tahun mendatang sebanyak tiga miliar orang akan kelaparan." tambahnya.
Untuk menyediakan sumber pangan bagi 50.000 orang, pertanian dengan sistem hidroponik ini harus dibangun di gedung setinggi minimal 30 lantai. Despommier dan para siswanya sengaja memilih peternakan ayam dan ikan nila sebagai sumber protein hewani karena produksinya tinggi dan bisa cepat dipanen.
Semua produk, baik makanan pokok berupa gandum dan kentang, hingga sayur, daging dan buah itu diperkirakan setara dengan hasil pertanian di atas tanah seluas 235 hektare.
Desain gedung juga amat menentukan keberhasilan pertanian vertikal. Sebab, menurut konsep pertanian vertikal, emisi gas rumah kaca menara itu haruslah nihil. Pertanian itu juga harus mengubah limbah air kotor menjadi air siap minum serta mendaur ulang semua uap air dan embun yang dihasilkan. Gas metan yang berasal dari kotoran ayam, ikan, dan limbah pertanian pun diubah menjadi sumber energi, selain listrik dari panel sel surya.
Keuntungan lain yang bisa diambil dari pertanian di menara pencakar langit ini adalah lahannya bebas banjir, kekeringan, dan hama. Sistem penanaman secara organik juga tak menggunakan herbisida, pestisida, atau pupuk. Nilai ramah lingkungannya pun bertambah karena pertanian vertikal juga mengurangi pemakaian bahan bakar minyak, tidak perlu menggunakan traktor untuk membajak dan pemanenan, serta tak membutuhkan alat transportasi.
Konsep yang menarik perhatian sejumlah arsitek di Amerika Serikat dan Eropa dalam beberapa tahun terakhir ini akhirnya juga memukau Presiden Manhattan Borough, Scott M. Stringer. Ketika mendengar konsep itu pada Juni lalu, Stringer langsung membayangkan menara pertanian tersebut berdiri menghiasi langit Kota New York. "Memang, kami tidak mememiliki lahan kosong yang luas di pulau ini. Tapi, langit tak ada batasnya di Manhattan," kata Stringer.
Kini Stringer dan pejabatnya tengah menghitung apa saja yang diperlukan untuk membuat model pertanian vertikal itu. Dalam beberapa bulan mendatang, mereka juga akan melakukan studi kelayakan untuk menyulap sebagian kantor wali kota menjadi lahan pertanian vertikal. "Saya yakin kami mampu melakukannya," katanya, seraya menambahkan, "kami bisa memperoleh penyandang dananya."
Biaya untuk membuat pertanian vertikal ini memang setinggi menaranya. Despommier memperkirakan, untuk membuat sebuah prototipe pertanian vertikal, dibutuhkan biaya Rp 183 hingga Rp 274,4 miliar. Tapi, untuk membangun sebuah menara 30 lantai yang bisa menghasilkan makanan bagi 50.000 orang, ongkosnya melonjak sampai triliunan rupiah. "Ini memang ide gila," kata pria 68 tahun itu.
Tjandra dewi | verticalfarm | nytimes | cumc.columbia.edu





