close

Ryugyong Dibangkitkan dari Koma

Kamis, 24 Juli 2008 | 14:39 WIB

TEMPO Interaktif, PYONGYANG: -- Sebuah foto tak pernah bisa berbohong. Begitulah tulisan dalam sebuah artikel di majalah Esquire, 28 Januari lalu. Saat itu, majalah khusus untuk pria yagn beredar dari New York, Amerika Serikat, tersebut menjuluki Hotel Ryugyong yang menjulang setinggi 305 meter ke langit Pyongyang, Korea Utara, sebagai hotel yang terburuk di dunia.

Bukan cuma arsitekturnya yang dianggap mirip piramid, tapi pencakar langit ke-22 tertinggi di dunia itu juga dinilai memiliki konstruksi terburuk yang pernah ada di muka Bumi sepanjang sejarah peradaban manusia. "Bahkan menurut standar Komunis sekalipun, hotel dengan 3.000 kamar itu jelek dan menyeramkan," isi tulisan di majalah Esquire.

Sudut-sudut yang kaku dan persegi mungkin bisa dianggap biasa dan plain, tapi urusan desain bisa sangat relatif.

Tidak semua lalu setuju dengan Esquire. Ada kolomnis seperti Brad Sylvester di Associated Content yang menulis bahwa desain piramida Ryugyong justru unik karena mengedepankan fungsi.

Desain tiga sayap hotel yang saling berhadapan, misalnya, akan memaksimalkan view yang bisa disajikan untuk setiap kamar. Prinsip desain serupa sebenarnya juga diusung banyak hotel di Las Vegas, Amerika Serikat.

"Arsitek Hotel Ryugyong sepertinya sengaja mendesainnya untuk memastikan setiap kamar memiliki jendela dan seluruhnya mengarah ke pemandangan Pyongyang dan sekitarnya, bukannya saling bertatapan," tutur Sylvester.

Sylvester juga menganggap bentuk dasar hotel yang mirip piramida memastikan semakin banyak kamar di lantai yang lebih rendah yang mendapat sinar matahari. Begitu pula dengan taman-tamannya, bisa terang dan segar. "Anda tidak akan bisa membayangkan sebuah hotel yang pengap," katanya.

Satu-satunya alasan yang membuat Ryugyong pantas menyandang predikat seperti yang diberikan Esquire, menurut Sylvester, yakni proses konstruksinya yang terbengkalai lama sekali. Bagaimana tidak? Pemerintah Korea Utara menghabiskan hampir US$ 750 juta hanya untuk keinginan menyaingi kemakmuran saudaranya di Selatan.

Foto-foto yang dirilis penguasa setempat, meski sudah dimanipulasi, seperti diungkap Esquire, tak bisa menutupi kenyataan bahwa hotel itu kosong dengan menyisakan sebuah crane yang tertancap di pucuk kanopinya. Ryugyong tak pernah ditempati dan tak terselesaikan sejak 1992.

Rumornya, pembangunan hotel itu terhenti karena penyandang dana terbesar untuk negeri itu, Uni Soviet, bubar. Korea Utara kehabisan uang dan jatuh miskin. Tapi ada pula yang menganalisis bahwa desain konstruksi Ryugyong sudah salah sejak awal sehingga penyelesaian 14 lantai teratas diyakini akan membuat hotel ambruk.

Alasan kedua ini sepertinya terbantahkan dengan sendirinya lewat embusan kabar terkini bahwa pembangunan Ryugyong sudah dilanjutkan kembali per April lalu. Ryugyong dibangkitkan dari koma oleh pemerintahan Pyongyang yang bekerja sama dengan Kelompok Orascom dari Mesir.

Tidak jelas benar hubungan kontraktor asal Mesir itu dengan bentuk hotel yang mirip piramida. Tapi ekspatriat di Pyongyang mengungkapkan bahwa proyek itu sudah dilanjutkan dengan pengerjaan lantai teratas hotel. Orascom juga mulai memasang panel kaca pada jendela-jendela yang selama 16 tahun ini melompong.

Yang rada aneh, atap Hotel Ryugyong juga dihiasi dengan antena, meski untuk yang terakhir ini Pyongyang sebenarnya melarang warganya memiliki telepon seluler.

Sebuah media di Korea Selatan memperkirakan, Pyongyang membutuhkan dana tambahan sebesar US$ 2 miliar untuk bisa menyelesaikan Ryugyong sekaligus membuatnya aman. Angka itu sudah akan menghabiskan 10 persen anggaran belanja tahunan negeri yang tergolong miskin itu.

Kalaupun pembangunannya dilanjutkan, di mata Esquire, Ryugyong sudah sulit mendapat tempat. "Siapa yang berjalan-jalan ke Pyongyang?" begitulah tulisan di Esquire seraya menyinggung kebijakan pemerintah setempat yang sangat membatasi kunjungan warga asing dan membuatnya sebagai negara paling tertutup di dunia.

Pembangunan Ryugyong akan sangat masuk akal apabila terjadi di Korea Selatan. Sebab, Korea Selatan mengizinkan warga mancanegara berjalan-jalan. Juga, di Korea Selatanlah gedung-gedung seperti Busan Lotte Tower dan Lotte Super Tower kini membubung setinggi ratusan meter di atas rata-rata.

"Dengan total penduduk Pyongyang yang berkisar 2,5 sampai 3,8 juta (tidak pernah ada angka resmi), Hotel Ryugyong adalah kegagalan dalam skala yang sangat besar, begitu isi tulisan di Esquire.

Lee Sang Jun, profesor arsitektur di Yonsei University, Seoul, Korea Selatan, boleh jadi setuju dengan penilaian itu. Menurutnya, Hotel Ryugyong memang besar dan tinggi, tapi bukanlah desain yang cantik. "Tidak ada makna atau kadar monumentalnya," ujarnya.

Hotel Ryugyong tidak lebih dari warisan proyek yang sekadar ingin membusungkan dada, tapi tidak ada kaitannya sama sekali dengan jati diri sekitarnya. Bangunan seperti itu, kata Bruno Giberti, Ketua Departemen Arsitektur di California Polytechnic State University, Amerika Serikat, belakangan banyak dibangun di kota-kota di dunia. "Jika memang Ryugyong adalah yang terburuk di dunia, urutan berikutnya ada di Las Vegas dan Shanghai," kata Giberti .


Wuragil/Independent/Ryugyonghotel/Chinadaily

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan