GEA, Hasil Ngidam Mobil Nasional
Minggu, 12 April 2009 | 12:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: BENTUKNYA seperti mobil mini keluaran Jepang atau Korea. Bahkan lebih gagah. Dengan lampu depannya yang besar dan ventilasi mesinnya yang mirip lokomotif, ia seperti seekor capung. Meski, sayangnya, interiornya tidak seindah penampilan luar. Kabin mobil yang muat lima orang dewasa--dua di depan, tiga di belakang--ini kelihatannya diselesaikan dengan tergesa-gesa, masih harus dipoles di sana-sini.
Inilah cikal-bakal mobil idaman Indonesia sejak dulu: mobil buatan negeri sendiri. Namanya GEA, singkatan dari Gulirkan Energi Alternatif. Untuk sebuah mobil, ini nama yang terdengar aneh. Tapi mobil ini memang memakai mesin yang pada awalnya dikembangkan untuk kendaraan dengan bahan bakar alternatif (lihat "Dapur Pacu dari Dapur Sendiri").
Rupanya, mesin 500 cc dengan dua silinder untuk pedesaan itu tangguh dipakai di kota. Departemen Perhubungan sudah memberikan lampu hijau untuk produksi massal. Sebelumnya, GEA juga telah lulus uji kelaikan jalan. Nah, rencananya mobil itu sudah akan dijual akhir tahun ini. Harganya sedikit di atas harga satu motor Kawasaki Ninja 4 tak.
Sudah banyak mobil yang diklaim sebagai "mobil nasional". Setidaknya, istilah ini sudah ramai disebut sejak keluarnya sedan Timor, mobil yang belum "seratus persen Indonesia". GEA berbeda. Semua komponennya buatan dalam negeri, kecuali karburator. "Jadi memang baru 98 persen, karena komponen pengatur asupan bensin itu masih kami impor," ujar Nyoman Jujur, Ketua Riset Unggulan Strategis Nasional Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Nah, agar mobil ini seratus persen Indonesia, Pusat Teknologi Material di badan itu sedang mengembangkan teknologi electronic fuel injection (EFI) sebagai pengganti karburator impor. Peranti lunak untuk EFI sudah dibuat, tinggal hardware-nya. Rencananya, pembuatannya bakal dipandu komputer. "Dengan cara mekanik, pengaturan lubang EFI harus dibor sedikit demi sedikit, sedangkan dengan komputer bisa lebih detail sehingga pengapian jauh lebih baik," kata Nyoman Jujur.
Menurut Nyoman Jujur, GEA merupakan hasil karya gotong-royong. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mendapat tugas membangun mesin mobil yang ditujukan sebagai city car ini. Soal rangka dan bodi GEA, pemerintah menyerahkannya kepada PT Industri Kereta Api (Inka).
Pabrik kereta api di Madiun, Jawa Timur, itu memang memiliki pengalaman dalam membuat bodi mobil. Inka bahkan pernah membuat mobil Kancil. Sayang, mobil pengganti bajaj yang dipesan PT Kurnia Abadi Niaga Citra Indah Lestari pada 2003 itu gagal di pasaran. Padahal PT Inka sudah memproduksi 40 ribu unit mobil ini.
Kepala juru bicara INKA, Fathoer Rosyid, menjamin GEA bakal lebih baik daripada Kancil. Terbuat dari bahan serat gelas yang alot dan tahan karat, kabinnya akan dilengkapi sistem penyejuk udara. Ada pula seperangkat sistem audio. Speaker-nya ditempatkan di dekat jok belakang. Ruang di belakang jok itu difungsikan sebagai bagasi.
Karena mobil dengan diameter ban berukuran 13 inci ini merupakan mobil mini, dashboard-nya didesain minimalis. Panel kecepatan diletakkan di bagian tengah. Ini membuat informasinya bisa dipantau dari semua tempat duduk. Tak banyak yang ditampilkan dalam panel tersebut. Hanya ada jarum penunjuk kecepatan serta indikator bahan bakar, temperatur, oli, dan lampu.
Maaf, tak ada power window untuk membuka dan menutup kaca pintu depan. Kaca ini dibuka dengan engkol. Tapi kaca pintu bagian belakang dioperasikan dengan mesin dari pintu kemudi.
Berbeda dengan kebanyakan mobil mini buatan Jepang atau Korea, yang memiliki empat pintu penumpang plus satu pintu bagasi, GEA hanya punya tiga pintu. Satu berada di sisi kemudi dan dua lainnya di samping kiri. Alhasil, untuk menaruh barang di bagasi, Anda harus melakukannya dari dalam mobil.
Salah satu bagian yang unik di bodi mobil ini adalah ventilasi mesin. Bayangkan lokomotif kereta api. Lubang angin yang dipasang di antara lampu besar depan itu dibuat menyerupai ventilasi mesin lokomotif kereta api. Agaknya Inka tak ingin kehilangan identitas sebagai pembuat lokomotif.
Sementara lampu depan dibikin besar, lampu belakang dibuat bergaya minimalis. Semuanya ramping dengan tiga susunan lampu berbeda. Masing-masing berwarna kuning, putih, dan merah.
Dalam uji ketahanan mobil selama 100 jam nonstop, GEA sukses besar. Padahal, ujar Nyoman Jujur, kondisi jalan saat pengujian itu dibuat semirip mungkin dengan keadaan sehari-hari. Saat mobil melaju di jalan bebas hambatan, putaran mesin tinggi dikombinasikan dengan beban rendah. Sebaliknya, pada jalan menanjak dan putaran mesin rendah, beban yang ditanggung ditinggikan.
Sepanjang uji ketahanan itu, tenaga mesin tetap stabil. Ini artinya dari segi material dan geometri tidak ada masalah pada mesinnya. Selama 100 jam itu, mesin bertahan dengan daya torsi yang stabil dengan rata-rata daya 10,5 kW dan torsi 30 Nm. Saat digeber, prototipe GEA itu bisa berlari dengan kecepatan maksimum 90 kilometer per jam.
Setelah lolos uji ketahanan, mesin GEA masuk trial production. Tes ini dilakukan di PT Nefa di Tegal, Jawa Tengah, yang berpengalaman membuat mesin diesel. Targetnya adalah menghasilkan mesin skala produksi dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dengan prototipenya. Tahun lalu telah dihasilkan lima mesin. Salah satunya dikirim ke Inka.
Kata Nyoman Jujur, hasil uji produksi mesin tak kalah menggembirakan. Jika satu mesin prototipe menghabiskan biaya sekitar Rp 50 juta, saat trial production ongkosnya bisa ditekan hingga Rp 15 juta. Dengan konsep chip and fixture, ujarnya, harganya nanti bisa ditekan lagi menjadi Rp 8 juta per mesin. Alhasil, "Wajar kalau nanti harga mobilnya Rp 20 juta dan harga mesinnya Rp 8 juta," katanya. Mobil Indonesia seharga hanya Rp 28 juta, wow.
Firman Atmakusuma, Akbar Tri Kurniawan, Hari Tri Wasono (Madiun)





Komentar Anda [15] :