Belajar Bertani di Internet

Rabu, 12 Juli 2006 | 12:25 WIB

TEMPO Interaktif, Bedugul: Mendung membungkus siang yang dingin di Desa Pancasari, Bedugul, Bali, pertengahan Juni lalu. Sebaliknya, wajah Ketut Wiriantara, 28 tahun, cerah. Bendahara Kelompok Usaha Bersama Tani Muda Mandiri itu bersemangat menceritakan pengalamannya berguru tani di dunia maya.

Dua tahun lalu, Ketut hanya pemuda yang setengah terpaksa mengolah tanahnya karena gelar sarjana ekonominya tak laku. Ia bersama petani lainnya mencoba bertani stroberi dan tomat. Namun, hasilnya tak bagus. "Harga jatuh karena semua petani menanam komoditas yang sama."

Ia nyaris putus asa hingga akhirnya bantuan Microsoft datang ke desanya, yang berjarak satu jam bermobil dari Denpasar. Melalui program Community Training and Learning Centre (CTLC), Microsoft menyalurkan bantuan US$ 83 ribu, yang salah satunya ke Pancasari.

Para petani diperkenalkan teknologi. Ketut dan rekannya, I Wayan Kanten, diboyong ke Jakarta untuk dilatih menggunakan peranti lunak dan Internet. "Kami latih agar mereka mampu melatih teman-temannya," kata juru bicara PT Microsoft Indonesia, Cynthia Iskandar. Latihan juga mencakup cara membuat neraca, proposal kerja sama, dan membuat halaman web dengan Microsoft FrontPage.

Program CTLC juga memberi enam unit komputer meja, kini tertata di kantor KUB Tani Muda Mandiri, Jalan Dasong, tak jauh dari Balai Desa Pancasari. Di ruangan berukuran 4 x 6 meter itu anggota KUB belajar. "Awalnya tak memiliki ilmu bertani, lalu kami belajar dari Internet," tutur Wayan, Ketua KUB Tani Muda Mandiri.

Seperti belajar membuat rumah plastik. Bahan-bahan, ukuran, teknik irigasi, ataupun pemilihan bibit hingga pupuk, semua didapat dari Internet. Dari enam rumah plastik pada September tahun lalu, kini menjadi 10, dan akan bertambah menjadi 30 unit.

"Awalnya bertani stroberi, tapi lalu beralih ke paprika," kata Ketut. Ternyata paprika pasarnya bagus. Permintaan kini mencapai 1,5 ton per minggu, tapi baru bisa dipenuhi tiga kuintal saja per pekannya.

Paprika yang dihasilkan tak sembarangan. Tumbuh hingga setinggi empat meter, buah-buahnya bersembulan. Bobot satu buah bisa seperempat kilogram dan sebesar dua kepalan tangan. Tempo mencicipi paprika yang ternyata manis itu. "Ini memang beda. Enak pula dimakan mentah," kata Ketut.

Harga paprika KUB Tani Muda Mandiri juga berbeda. Sebelumnya, paprika biasa laku pada kisaran Rp 8.000 per kilogram untuk yang merah dan Rp 15 ribu untuk yang kuning. Kini paling tidak paprika merah laku seharga Rp 9.000 sampai 12 ribu,sedangkan untuk yang kuning Rp 17 ribu. Paprika hijau dulunya Rp 6.000, sekarang Rp 8.000 per kilogram.

Ketut tak lagi bingung, apalagi merasa terpaksa bertani. "Justru kewalahan memenuhi permintaan," kata dia. Nantinya, KUB berencana memperbaiki mutu dan menekan biaya pembuatan rumah plastik yang Rp 35 juta per unit. Itu karena masih banyak bahan yang diimpor. KUB juga ingin memperluas pasarnya tak hanya di Bali. Ke mana mencari pelanggannya? "Bisa dari google.com," ujar Ketut.

Ibnu Rusydi

Komentar Anda (1) :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
  • Alangka indahnya bertani dalam negeri yang subur

    pada halnya d negeri kita mempunyai tanah ataupun hutan yang luas untuk dibuat bertani tetapi kenapa oanr-orang banyak yang menfaatkan tidak dengan baek.saya sebagai siswa SMAmuhammmadiyaH 1 gresik merasa tidak puas oleh hukuman yang dijatuhkan oleh hakim angung kepada cukong kayu yang tidak sedit mengambil kayu-kayu di hutan

    -- Omi arapena, Gresik, 23/12/2008 11:14:01 wib

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :