Bersiap Hadapi Bencana
Rabu, 30 Agustus 2006 | 12:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Siang di Gedung World Trade Center, New York, pada 26 Februari 1993 terasa lebih panas daripada biasanya. Pasalnya, sebuah bom mobil di tempat parkir Tower 1 meledak, yang menyebabkan enam jiwa melayang, 1.042 lainnya mengalami luka-luka, serta kerugian materiil hingga mencapai US$ 600 juta (bila dikonversi dengan nilai tukar saat ini sekitar Rp 5,4 triliun).
Ledakan itu sungguh tak pernah diduga sebelumnya. Sekitar 350 perusahaan yang berkantor di gedung itu sama sekali tak memiliki persiapan menghadapi hal tersebut. Sekitar 87 persen dari mereka tak memiliki perencanaan pemulihan dari bencana (disaster recovery plan/DRP). Bahkan, menurut studi lembaga riset terkenal, Gartner, 50 persen dari perusahaan-perusahaan tadi akhirnya bangkrut, hanya dalam jangka waktu setahun.
Delapan tahun berlalu. Pada 11 September 2001, di tempat yang sama, menara kembar World Trade Center kembali dihajar teror. Gedung jangkung WTC itu runtuh, sekitar 2.600 jiwa lenyap secara tiba-tiba. Namun, beberapa perusahaan yang telah menyiapkan perencanaan kesinambungan bisnis menghadapi bencana dapat beroperasi kembali hanya dalam hitungan hari. Hal itu sedikit-banyak menggambarkan betapa pentingnya sebuah sistem perencanaan pemulihan bencana bagi perusahaan.
Di Indonesia, yang belakangan sering ketiban bencana, tentu saja hal ini menjadi sangat penting. Apalagi bagi perusahaan yang bisnisnya sangat bergantung pada data-data real-time, seperti perusahaan yang bergerak di bidang finansial dan perbankan atau telekomunikasi. Maka tak aneh bila Bank Indonesia mewajibkan bank memiliki DRP (Peraturan Nomor 6/8/PBI/2004 tentang Real-Time Gross Settlement).
DRP secara mudah bisa dilihat dari bagaimana sebuah perusahaan mem-backup data. Yang paling murah dan sederhana adalah dengan mencatat data mereka melalui sebuah tape, yang kemudian di-update setiap hari ke dalam sistem penyimpanan cadangan.
Namun, perusahaan juga bisa menggunakan teknologi mirror, yang didesain untuk menyimpan data cadangan secara real-time dan men-switch simpul data pada lokasi produksi ke simpul data cadangan secara otomatis bila terjadi musibah. Dengan cara itu, sistem data pada kantor-kantor cabang tak akan terganggu walaupun kantor pusatnya terkena bencana.
Menurut Hengkie Kastono, Country Manager IBM Global Services, sudah banyak perusahaan yang mem-backup datanya ke sebuah tempat penyimpanan (data recovery center/DRC) yang terpisah dari kantor utamanya. Untuk memenuhi syarat DRP, IBM punya tempat penyimpanan data di dekat Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang.
Sebuah DRC IBM berkapasitas besar terdapat di Singapura (biasanya perusahaan besar mem-back-up data ke dua DRC: di tempat yang lebih dari 30 kilometer dan DRC yang berada di pulau yang berbeda). Namun, menurut Hengkie, sebuah perencanaan menghadapi musibah tak sebatas penyimpanan fisik.
Kebanyakan perusahaan sudah punya backup data, tapi belum punya rencana konkret bila bencana benar-benar terjadi. "Kalau terjadi bencana, mereka akan kebingungan mau berbuat apa," kata Hengkie. Padahal desain DRP yang lengkap mencakup analisis, desain, dan implementasi.
Dalam tahap analisis, sebuah perusahaan harus menghitung faktor risiko bencana yang dihadapi dalam melakukan produksi serta kemampuan perusahaan untuk bangkit dari bencana tadi.
Memasuki tahap desain, perlu dicari strategi untuk bangkit dari bencana, yang disertai dengan strategi solusi yang meliputi pengorganisasian dan teknologi yang dibutuhkan. Setelah itu solusi tersebut baru diimplementasikan dalam sebuah manajemen krisis perusahaan serta infrastruktur teknologi yang terintegrasi. Jadi DRP memang tak sekadar mem-backup data.
INDRA DARMAWAN




Komentar Anda :