Memotret Sambil Membasmi Zombie

Jum'at, 01 September 2006 | 13:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Mungkin memang sudah bawaan, wartawan foto spesialis perang seperti Frank West punya rasa ingin tahu yang besar. Tapi West tak pernah tahu insting beritanya bakal menyeretnya menjadi seorang pembunuh zombie dalam petualangannya di game video yang berjudul Dead Rising.

Dead Rising adalah game untuk Xbox 360 pertama yang dibuat perusahaan Capcom. Sejak pertama diluncurkan pada 8 Agustus lalu di Amerika Serikat, game aksi ini telah laku 500 ribu kopi. Rencananya, game ini juga diluncurkan pada 8 September 2006 di Eropa dan 28 September 2006 di Jepang.

Kisah game ini berawal dari kecurigaan West saat berada di daerah pinggiran Willamette, Colorado, Amerika Serikat. Konvoi militer memblokade akses jalan ke pusat kota. Dalam sekejap, semua peralatan komunikasi macet. West kasak-kusuk mencari penyebab ketidakberesan ini. Lalu dia menyewa sebuah helikopter yang membawanya ke dalam kota.

Di sana, West menemukan kekacauan besar yang tak pernah dia temui dalam perang mana pun yang pernah dia liput. Ternyata kota telah dibanjiri oleh gerombolan zombie yang sedang memangsa penduduk kota. Setelah berputar-putar mengambil foto, West meminta pilot menurunkannya di atap sebuah pusat perbelanjaan besar dan menjemputnya kembali di situ dalam waktu tiga hari.

Sejak itu, West memulai petualangannya. Ia diberi waktu selama 72 jam untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Memainkan tokoh West, kita harus mendapatkan foto-foto jurnalistik yang menggambarkan kekacauan yang terjadi.

Tiap kali mengambil gambar, kita akan mendapat angka yang bakal memperbesar jumlah prestige point kita. Poin itu bisa menambah nyawa, kekuatan, opsi bertarung, dan bekal menuju ke level berikutnya. Poin itu juga akan bertambah bila kita menyelamatkan tokoh warga (non player character) yang masih hidup atau membunuh zombie.

Di game ini, tangan West tak hanya sibuk menjepret kamera, tapi juga bakal basah bersimbah darah zombie. Untuk menghadapi para zombie, kita bisa menggunakan berbagai peralatan yang ada di toko, dari sepeda motor, tongkat, gergaji mesin, pedang, shotgun, hingga senapan mesin. Namun, untuk menyelamatkan warga, ternyata lebih susah.

Dengan artificial intelligent yang bodoh, warga yang selamat kadang tak mematuhi instruksi untuk menyelamatkan diri ke tempat yang aman. Sering kali mereka justru "menceburkan" diri ke gerombolan zombie.

Kualitas audio permainan ini sangat mengesankan. Efek suara untuk senjata-senjatanya sungguh fantastis. Tiap senjata punya bunyi berbeda yang terdengar sangat nyata. Begitu pula dengan suara para aktor.

Salah satu kelemahan game ini adalah kualitas soundtrack di sepanjang permainan, yang kurang bermutu. Selain itu, permainan ini hanya memiliki satu slot penyimpanan, yang artinya kita tidak bisa kembali ke permainan semula. Sekali kita mainkan, game akan langsung menyimpannya secara otomatis dan menghapus permainan terdahulu.

Bagaimanapun, Dead Rising adalah salah satu game yang unik dan sangat menyenangkan. Tak banyak game yang memberi hiburan, kesenangan, dan kelucuan dalam atmosfer action yang kental seperti ini. Dan bagi West, petualangan ini tak sekadar mengambil foto kejadian, untuk para pembaca. Tapi ini juga waktunya untuk memberantas zombie.

IGN | GAMESPOT | GAMESPY | INDRA DARMAWAN

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :