Pertemuan Tahunan Pengembang Open Source

Rabu, 20 September 2006 | 12:23 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Brian Dwi Hartomo tertegun menyaksikan game yang ditampilkan pada sesi pertama acara "Sun Developer Days" di Hotel Shangri-La, Jakarta, kemarin. "Ini sih program kelas tinggi," ujarnya tentang game berbasis Java yang selevel dengan game Doom itu.

Tempat kerja anggota staf teknologi informasi PT LG Electronics Indonesia itu memang menggunakan Sun Solaris sebagai sistem operasi untuk servernya. Selain itu, tak ada aplikasi Sun lainnya. Brian tetap merasa perlu hadir ke pertemuan tahunan untuk menambah wawasan.

Sama halnya dengan Muhammad Arifin, karyawan TI di harian Republika. Walau tempat kerjanya bisa dibilang masih proprietary minded, ia merasa perlu menambah wawasan tentang teknologi terbaru dari Sun Microsystems. "Saya baru mulai belajar program Java untuk kegiatan di luar kantor," ujarnya.

Brian dan Arifin termasuk dari sekitar 900 pengembang peranti lunak dan content Internet yang hadir di acara tahunan Sun Microsystems Inc. itu. Isinya antara lain membahas materi Java, NetBeans, dan Open Solaris, serta teknologi open source generasi mendatang. Naveen Asrani, Manager Developer Relations Asia South and Australasia Sun Microsystems, kagum dengan besarnya jumlah peserta. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang mengembangkan open source.

Sun memang aktif mendukung open source system (sistem sumber terbuka). Beberapa produk open source-nya antara lain platform sistem operasi Solaris Enterprise Sistem, sistem operasi Linux Sun, aplikasi untuk produktivitas kantor Star Office, tools untuk developer NetBeans, dan OpenSPARC untuk prosesor 64 bit UltraSparc.

Harry Kaligis, General Manager Business Development & Marketing Sun Microsystems Indonesia, mengatakan perusahaan-perusahaan Indonesia seharusnya berpaling ke open system sebagai alternatif ketimbang "dikejar-kejar" oleh isu pembajakan software bermerek.

Ia juga mengungkapkan besarnya peluang lapangan kerja di bidang Java. Dia menyatakan tiap tahun pasar TI di Indonesia membutuhkan sekitar 2.000 pemrogram Java. Padahal, hingga saat ini, Indonesia hanya punya seribu pemrogram Java besertifikat.

Karena itu, selain mendukung pembentukan komunitas pengembang program Java untuk kaum profesional, Java Champion, Sun membentuk komunitas Java di kalangan mahasiswa, yang dinamai Java Ambassador.

Hari ini, Sun juga akan mengadakan "Sun University Day" di Universitas Indonesia. Pada acara itu, dilakukan konferensi video dengan Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Menurut Presiden Direktur Sun Microsystems Indonesia Bhra Eka Gunapriya, paling tidak 1.500 mahasiswa akan membahas teknologi open source untuk aplikasi proses pendidikan.

Indra Darmawan






Komentar Anda

Kirim