Hak Asasi Internet

Selasa, 26 September 2006 | 13:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Bagi penggalak kebebasan berekspresi dan pejuang hak asasi manusia, Internet adalah ruang publik yang harus kebal dari penyensoran dan pengintaian. Itu pula sebabnya, ketika pemerintah Cina melakukan penyensoran Internet dan menangkap puluhan pengguna Internet di Negeri Tirai Bambu itu karena dituduh menyebarkan informasi subversif, Amnesty International bersuara keras.

Tak hanya Amnesty Internasional, Hacktivismo--kelompok hacker yang juga aktivis hak asasi manusia dan bagian dari Cult of the Dead Cow--juga menentang penyensoran dan tindakan memata-matai pengguna Internet. Sebagai bentuk penentangan itu, Hacktivismo mengembangkan browser--program penjelajah Internet--yang portabel dan bisa menyamarkan alamat Internet pengguna. Browser itu dinamai Torpark.

Browser Torpark diciptakan oleh Steve Topletz. Torpark sebenarnya adalah versi modifikasi browser Mozilla Firefox Portable Edition ciptaan John T. Haller, yang bisa dijalankan secara langsung dari batang memori flash (USB flash drive). Torpark juga mengandung program The Onion Router (TOR) yang memungkinkan para penggunanya berkomunikasi secara anonim di Internet.

Begitu Torpark dijalankan, ia akan menciptakan sebuah koneksi yang tersandi ke jaringan TOR. Misalnya, seorang narapidana berinternet dari balik jeruji sel di lembaga pemasyarakatan Kerobokan, Bali. Tapi di situs web yang dia dituju, identitasnya terlihat sebagai pengguna dari sebuah universitas di Jerman atau negara lainnya yang masuk jaringan TOR.

Untuk membuktikannya, Anda bisa menggunakan situs web WhatIsMyIP.com. Bila Anda membuka situs web itu dengan browser tradisional Anda, akan muncul alamat Internet Anda yang sebenarnya. Tapi, jika memakai Torpark, akan muncul alamat Internet yang berbeda dari aslinya.

Selama pengguna menjelajahi situs web tersebut, TOR memasok alamat Internet yang berubah-ubah setiap beberapa menit. "Ini akan membuat frustrasi pihak yang menyadap dan menyamarkan sumber yang meminta," ujar Oxblood Ruffin, pendiri Hacktivismo.

Namun, Hacktivismo menegaskan pengguna harus paham anonimitas ada batasnya. "Identitas koneksi bisa disamarkan, tapi data yang lalu-lalang antara jaringan TOR dan situs web tidak bisa dienkripsi."

Paket Torpark versi 1.5.0.2 tersedia secara gratis untuk diunduh dari situs web http://torpark.nfshost.com/. Besar file-nya 5,6 megabita (format Windows self-extracting archive). Torpark tak bisa disalin ke cakram padat karena harus ditulis ke sebuah direktori lokal di komputer. Torpark mengandung folder yang berisi Firefox 1.5, instalasi TOR pre-configured, dan file program TorPark.exe.

Menurut pembuatnya, Torpark berbeda dengan program penyamar alamat IP semisal Anonymizer, SafeSharing, InvisibleIP, dan SecretSurfer. Selain tak perlu membayar atau berlangganan, Torpark tak perlu diinstal ke hard disk sehingga tidak meninggalkan jejak.

Torpark dikembangkan lebih dari setahun. TOR saja pada awal pengembangannya merupakan proyek yang disponsori US Naval Research Laboratory, tapi pada akhir 2004 menjadi proyek Electronic Frontier Foundation. Peluncuran resmi Torpark oleh Topletz dilakukan pada 19 September lalu.

Selain Torpark, Hacktivismo mengembangkan aplikasi kembarannya yang dinamakan Torbird. Bedanya program ini memakai jaringan TOR untuk menyembunyikan alamat e-mail.

HACKTIVISMO | CNET | TORPARK | NEWSFORGE | WIKIPEDIA | DODY HIDAYAT






Komentar Anda

Kirim