Saat Bos TI Bermain Detektif

Rabu, 04 Oktober 2006 | 13:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Hewlett Packard (HP) dikenal sebagai perusahaan teknologi informasi (TI) yang memiliki citra egaliter. Siapa sangka pionir Silicon Valley itu bakal terkena skandal yang membuatnya mewarnai berita-berita utama di berbagai media massa.

Cerita berawal dari laporan wartawan kawakan CNET, Dawn Kawamoto, yang menyinggung strategi jangka panjang HP. Informasi rahasia itu didapat dari orang dalam HP. Lalu Presiden Direktur HP Patricia Dunn mengusut kebocoran itu dengan menyewa detektif partikelir.

Penyelidik swasta mencoba menyamar untuk mendapatkan rekaman pembicaraan telepon untuk mencari tahu siapa pembocor di perusahaannya. Tak hanya itu, segala cara dilakukan untuk menguliti identitas pembocor, dengan memata-matai surat elektronik, pesan instan, dan lain-lain.

Walau akhirnya salah seorang anggota direksi, George Keyworth, mengakui sebagai pembocor dan mengundurkan diri, tak ada yang menang dalam skandal ini. Komite Energi dan Perdagangan DPR Amerika Serikat membentuk tim untuk mengusut kebijakan HP yang "menghalalkan segala cara" itu.

Patricia Dunn akhirnya mengundurkan diri dari posisinya per awal tahun nanti. Ia akan digantikan oleh chief executive officer saat ini, Mark Hurd. Sedangkan Tom Perkins, salah seorang direktur HP yang mengundurkan diri saat Dunn mengumumkan kebijakan "mata-mata"-nya kepada direksi, dimaafkan.

Yang menarik, ternyata detektif HP juga menggunakan sebuah layanan komersial murah untuk melacak kebocoran karyawannya. Menurut Frank Adler (salah seorang penyelidik HP) dalam kesaksiannya kepada Komite Kongres, ia menggunakan ReadNotify.com, ia melacak surat elektronik yang dikirimkan kepada Dawn Kawamoto, reporter CNET.

Dengannya, Adler bisa bisa membuka file yang dilampirkan oleh surat elektronik, melihat kapan surat elektronik itu dibuka, dan mengetahui alamat internet protokolnya, sehingga dia bisa mengetahui dari komputer mana surat itu dibuka. "Kami mencurigai Tuan Keyworth sebagai penerima surat elektronik," ujar Adler.

Bahkan, kata Adler, hingga kini perusahaan masih menerapkan kebijakan itu. "Cara-cara seperti itu masih digunakan dalam melakukan investigasi untuk menemukan produk yang raib."

Layanan ReadNotify sepertinya mirip dengan web bug, sebuah teknik yang dilakukan para pengiklan e-mail. Penerima surat elektronik tak akan melihatnya karena surat elektronik dirakit dalam bahasa hypertext markup language, sementara file pelacak tak terdeteksi dalam bahasa itu. File itu hanya bisa terlihat melalui program seperti Notepad.

Meskipun demikian, layanan online ReadNotify itu cukup murah, bahkan menyediakan program percobaan gratis. Biaya berlangganannya US$ 24 (Rp 224 ribu) per tahun, sementara layanan premiumnya US$ 36 (Rp 331 ribu) per tahun. Ternyata skandal yang harus dibayar mahal oleh HP cukup menggunakan software komersial yang murah.

CNET | NEWSWEEK | SEATTLETIMES | DARMA






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: