Pengganti Uang di Belanja Online
Kamis, 19 Oktober 2006 | 13:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dalam sebuah forum di Internet, seorang ekspatriat di Indonesia yang hendak membuka bisnis online mengeluhkan kesulitannya dalam masalah pembayaran. "Pelanggan saya tak bisa menggunakan layanan pembayaran PayPal karena banyaknya masalah penipuan di Indonesia," ujarnya.
Beberapa tahun lalu, perusahaan jasa pembayaran online PayPal memang pernah membuka layanannya di sini. Namun, karena maraknya kejahatan penipuan kartu kredit lewat Internet, akhirnya layanan itu ditutup. Tapi sejak Kamis pekan lalu, PayPal membuka kembali layanannya di Indonesia.
Pembukaan kembali layanan itu bersamaan dengan pembukaan layanannya di Filipina, Kroasia, Fiji, Vietnam, dan Yordania serta peluncuran layanan PayPal dalam 10 mata uang berbeda. "PayPal adalah cara yang aman untuk pembayaran di Internet," ujar Jamie Patricio, Corporate Communication PayPal, menjawab surat elektronik Tempo.
Menurut Patricio, PayPal telah mengembangkan sistem deteksi canggih antipenipuan, yang dapat melindungi account keanggotaan kedua pihak, baik pembeli maupun penjual.
Sistem itu menggunakan teknologi enkripsi multilapis yang semakin cerdas dan andal setiap kali transaksi berlangsung. "Setiap kali PayPal masuk ke pasar yang baru, kami menggunakan sistem keamanan baru yang disesuaikan dengan kecenderungan penipuan," ujar Patricio menjamin.
Tentu saja bagi para tukang belanja online hal ini jadi kabar menggembirakan. Lewat PayPal, kini mereka bisa ikut lelang barang di eBay, beli sesuatu di Amazon, atau belanja di toko-toko online yang juga mendaftar ke PayPal.
Para pemilik akun PayPal juga bisa saling berkirim uang atau menagih uang melalui surat elektronik yang disediakan PayPal. Kepada penerima uang di Indonesia, PayPal mengenakan tarif sebesar 2,9-3,9 persen dari jumlah pembayaran, ditambah US$ 30 sen. Sedangkan pengirim bisa membayar kepada PayPal lewat akun bank, kartu kredit, atau rekening PayPalnya.
"Layanan ini akan sangat membantu," ujar Rizal Anthony, salah seorang karyawan perusahaan kontraktor di Surabaya. Selama ini, bila belanja barang elektronik ataupun software secara online, Rizal selalu membelinya lewat pihak ketiga, semisal Cendrawasih.com atau Alibaba.com.
Lewat pihak ketiga, kata Rizal, pembeli bisa dikenakan biaya tambahan hingga sebesar US$ 21 (sekitar Rp 192 ribu) untuk setiap pembelian barang seharga sekitar US$ 500 (Rp 4,6 juta). Lalu bagaimana nasib perantara itu setelah kemunculan PayPal?
Suyatmo Hugeng, pemilik perusahaan perantara Zone Ordering (termasuk situs perantara Alibaba.com), mengaku tak khawatir dengan kemunculan PayPal. Kebanyakan orang yang mengorder barang melalui Zone Ordering adalah orang yang menginginkan jaminan keamanan. Mereka sama sekali tak ingin ambil risiko data-data kartu kreditnya bisa terungkap.
"Hanya sedikit orang-orang yang akan nekat membeli secara online langsung dengan kartu kredit atau PayPal," katanya yakin. Di sisi lain, kata Suyatmo, dengan kemunculan PayPal, ia justru berharap bisa memotong biaya pembayaran, yang sebelumnya menggunakan jasa Western Union Bank.
Saat ini, tiap bulan pasti ada orang yang memesan pembelian online lewat Alibaba.com, baik berupa gadget elektronik, software, instrumen musik, maupun alat penangkap serangga. Setiap bulannya pembelanjaan lewat Alibaba.com bisa mencapai US$ 1.500 (sekitar Rp 13,7 juta) dengan skala pembelian sekitar US$ 150-200 (Rp 1,3-1,8 juta) setiap transaksi.
Tentu saja bagi perusahaan ritel PayPal bisa memperluas jaringan penjualannya serta mempermudah pembayaran bagi pelanggannya. Seperti diakui Manajer Teknologi Informasi Tempo Inti Media, Handy Dharmawan, kelompok media Tempo juga mendaftar akun PayPal untuk memperluas sistem pembayaran bagi pelanggannya di Internet.
INDRA DARMAWAN | PAYPAL | ZDNET




Komentar Anda :