Jurus Tiongkok di Perang Format
Kamis, 30 November 2006 | 12:16 WIB
Perang format cakram digital pengganti digital versatile disc (DVD) baru saja dimulai. Dua format bersaing menjadi pemenang: high definition digital versatile disc (HD-DVD) dan Blu-ray. Sementara semua mata tertuju pada dua format besar tadi, geliat format cakram digital lainnya juga mulai terasa di Cina.
Pekan ini sekitar 20 pabrik besar Cina menyatakan berhenti memproduksi pemutar DVD mulai 2008. Bukan kepada Blu-Ray atau HD-DVD mereka berpaling, melainkan pada format cakram asli lokal: enhanced versatile disc (EVD).
Langkah itu adalah bagian dari rencana yang didukung pemerintah Cina, untuk menghentikan ketergantungan terhadap teknologi asing dan menggantikannya dengan standar lokal. Pasalnya sederhana: devisa untuk lisensi. Sebagai negara pembuat pemutar DVD yang besar, Cina harus membayar hak paten dalam jumlah yang sangat tinggi. Setiap pemutar DVD yang dibuat, biaya lisensinya antara Rp 119-183 ribu.
Teknologi EVD tak terlalu banyak terekspos, berbeda dengan HD-DVD atau Blu-ray.
Yang jelas, EVD menggunakan teknologi yang lebih canggih dari MPEG-2 dalam masalah encoding. Ia menggunakan standar laser untuk membaca content berdefinisi tinggi dengan penggunaan enkripsi untuk keamanannya. Selain itu, ia menggunakan teknologi yang mendukung hingga enam kanal untuk audio.
Teknologi ini membuat kualitas simpan EVD, yang sekitar 9 gigabita, lebih bagus daripada DVD, yang sekitar 4 gigabita. Kemampuan ini masih jauh di bawah HD-DVD, yang bisa menyimpan 15-50 gigabita, atau Blu-ray, dengan 25-50 gigabita. Meski demikian, para pendekar elektronik Cina tidak gentar.
Mereka memiliki kelebihan dibanding HD-DVD atau Blu-ray dalam soal yang sangat penting: harga. Baohua Zhang, Presiden Antaeus Group, investor terbesar EVD, menyatakan harga rata-rata pemutar EVD sekitar 700 yuan alias Rp 815 ribu. Harga yang hampir setara dengan pemutar DVD ini jauh lebih murah dibanding HD-DVD atau Blu-ray, yang sekitar Rp 7,3 juta.
Itu sebabnya Zhang optimistis, karena pemutar EVD bisa dipakai menonton film berformat DVD. "Pembeli agaknya lebih suka membeli film-film berformat EVD untuk dapat menyaksikan keunggulan teknologi EVD," kata Zhang.
Sekarang tinggal masalah dukungan industri saja, baik perusahaan film maupun pembuat perkakas elektronik. Untuk industri di luar Cina, sebagian besar sudah menyatakan sumpah setia pada format HD-DVD atau Blu-ray. Begitu pula dengan pabrik elektronik terkemuka.
HD-DVD didukung oleh Toshiba, Intel, Microsoft, dan Universal Pictures. Sementara itu, Blu-ray disokong oleh Sony, Phillips, LG, Samsung, Dell, dan beberapa studio film selain Universal.
Langkah serupa dilakukan industri Cina untuk format EVD, bukan HD-DVD atau Blu-ray. Lebih dari 40 merek Cina, antara lain Shinco, Amoi, Hisense, dan TCL, telah membentuk aliansi untuk mendukung format EVD. Selain merek itu, pemasok-pemasok keping elektronik, perusahaan film, dan toko pengecer menyatakan kesiapan mereka bergabung dengan EVD.
Pekan ini saja akan diadakan pameran EVD di Cina dengan meluncurkan sekitar 50 produk pemutar EVD dengan lusinan merek. Aliansi ini juga akan membuka 800 toko yang menjual cakram EVD pekan ini. Angka ini diharapkan bakal meningkat lagi menjadi 1.200 cabang pada akhir tahun. Toko elektronik terbesar di Cina, yang juga anggota aliansi, rencananya akan menyediakan 150 area khusus di counter-nya untuk menjual EVD.
Produser dan distributor film juga sudah menyiapkan judul-judul untuk format Tiongkok ini, seperti Zoke Culture Group dan China International Television Corporation.
Yang sedang dilakukan EVD sekarang adalah merayu perusahaan Hollywood agar bersedia memproduksi film dengan format mereka. "Kami saat ini juga masih mencari dukungan dari penerbit dan distributor film, termasuk dari Hollywood," ujar Zhang.
Senjata untuk merayu satu: EVD dapat membatasi pemutaran film hanya untuk satu pemutar EVD. Hal itu dapat mencegah pembajakan, yang masih menjadi momok bagi para pembuat film Hollywood.
Kita tunggu saja hasilnya setelah para pendekar Tiongkok masuk di tengah perang pertempuran antara HD-DVD dan Blu-ray.
CHINADAILY | EETIMES | CNET | WIKIPEDIA | INDRA DARMAWAN




Komentar Anda :