Ponsel Dual Mode Pertama
Sabtu, 16 Desember 2006 | 12:42 WIB
Ada ciri yang selalu melekat pada Yopi, 30 tahun, yaitu kedua kantong celana panjang kainnya selalu menggelembung. Ya, sehari-harinya, karyawan perusahaan swasta ini selalu mengantongi paling tidak dua telepon seluler.
Ia bisa dikategorikan sebagai pria "multiponsel" karena ia punya empat nomor ponsel dari operator berbeda, baik operator jaringan GSM (global system for mobile communication) maupun CDMA (code division multiple access).
Banyak orang yang memilih menggunakan CDMA karena tarif yang lebih murah daripada tarif GSM. Namun, banyak pula orang yang tak rela menanggalkan nomor GSM-nya secara total karena relasinya sudah telanjur menyimpan nomor itu. Alhasil, dengan mudah kita temukan orang-orang "multiponsel" seperti Yopi.
Nah, pekan ini, Samsung meluncurkan produk terbaru yang cocok bagi orang seperti Yopi, yaitu ponsel dual mode, SCH-W569. Ponsel ini dapat dijalankan di dua jaringan, secara bergantian, yaitu pada jaringan CDMA 2000 1x (800/1900 MHz) dan GSM (900/1800 MHz).
Ponsel itu menyediakan dua slot untuk kartu SIM GSM dan kartu RUIM untuk CDMA. Jadi tak perlu lagi repot-repot mematikan handset, lalu mencopot baterai ponsel, untuk mengganti kartu SIM dengan RUIM, atau sebaliknya. Apalagi berat-berat membawa dua handset berbeda seperti Yopi.
Menurut Manager Marketing Samsung Electronics Indonesia Agus Sugiharto, produk ini merupakan ponsel dual mode pertama yang resmi dijual di Indonesia. Untuk peluncuran perdana, 5.000 ponsel jenis ini akan membanjiri pasar.
Hal itu, menurut Agus, juga dipicu oleh peningkatan pangsa pasar CDMA lokal. Bila Januari tahun ini pangsa pasar CDMA lokal hanya sekitar 13 persen, akhir tahun ini meningkat menjadi 18 persen.
Sebenarnya, Samsung juga pernah mengeluarkan ponsel dual mode, seperti SCH A790, W109, A795, i819, dan SCH W379/399. Setahun lalu, Motorola juga sempat mengeluarkan ponsel sejenis, yaitu A840/A860.
Namun, semua produk itu tak masuk ke Indonesia secara resmi alias hanya bisa ditemui di pasar gelap. Walaupun harganya lebih murah, tentu saja pasar gelap tidak disertai oleh pelayanan purnajual.
Denny Dermawan, 31 tahun, adalah pengguna ponsel pasar gelap jenis ini. Ia punya beberapa ponsel dual-mode yang dapat diaktifkan secara bergantian ataupun diaktifkan secara bersamaan, semisal Samsung SCH W109, Daxian C8000, Yulong 288, dan UTStarcom T66.
Tujuan Denny menggunakan ponsel jenis ini agar bisa menghemat tarif saat menelepon rekan-rekannya yang menggunakan operator berbeda. Denny mengaku, selama ia membeli ponsel itu dari pasar gelap, ia tak pernah mengalami kerusakan handset.
Tapi, menurut Agus, bagaimanapun, ponsel dari pasar gelap sering kali tidak memiliki setelan yang pas bila dipakai di Indonesia. Sebab, kata Agus, ponsel CDMA adalah ponsel tailor made, yang membutuhkan kustomisasi. "Pasti ada berbagai fitur yang tidak bisa diterapkan di sini," kata Agus. Sedangkan W569 sudah dikustomisasi dengan jaringan Fren milik Mobile-8.
Dengan handset baru dari Samsung ini, Anda bisa menikmati beberapa fasilitas, antara lain chatting (sampai empat orang), video chatting (dua orang), berselancar di Internet, atau menonton mobile TV (TV mobil). Semua ditawarkan dalam program bundel bersama Fren dengan harga Rp 4,388 juta ("prabayar") dan Rp 2,5 juta serta kewajiban pemakaian minimum Rp 388 per bulan ("pascabayar").
Harga itu memang masih lebih mahal daripada harga total dua ponsel (GSM dan CDMA) yang dibawa-bawa Yopi pada kedua saku celananya. Tapi paling tidak, dengan ponsel ini, satu saku celana Yopi tak lagi menggelembung.
Indra Darmawan




Komentar Anda :