Internet Pingsan Disengat Lindu

Jum'at, 29 Desember 2006 | 13:39 WIB

Taufik keluar dari warung Internet langganannya. Tapi kali ini dengan perasaan dongkol yang membuncah. "Nggak bisa browsing, nggak bisa chatting," Taufik menggerutu.

Alhasil, Rabu lalu, pria yang biasanya tahan duduk berlama-lama di depan komputer warnet di Purwakarta itu harus pensiun dini dari "pekerjaan" rutinnya, chatting dan berselancar di Internet.

Tak hanya koneksi Internet di warnet langganan Taufik yang terganggu. Hampir semua koneksi Internet dari Indonesia serta negara Asia Tenggara lain ke jaringan internasional putus akibat gempa di Taiwan malam sebelumnya.

Gempa? Apa hubungannya dengan Internet? Ternyata ceritanya cukup panjang. Setiap kali Taufik berselancar di Internet, dia mengambil data dari banyak komputer lain. Saat ia mencari tahu film James Bond terbaru, Casino Royale, di situs imdb.com, berarti ia mengambil data dari server komputer yang disewa imdb.com.

Jika server komputer itu berada di Purwakarta, Taufik tentu tidak harus menggunakan Internet. Tapi server itu berada di Amerika Serikat.

Untuk sampai ke Amerika, komputer di Purwakarta itu disambungkan lewat kabel laut. Nah, kabel laut yang berada di sekitar Taiwan itu rusak akibat gempa berkekuatan 7,2 pada Selasa malam lalu.

Sebagian besar penyedia layanan Internet di Indonesia memanfaatkan kabel laut SMW3 (Southeast Asia-Middle East-Western Europe 3) milik konsorsium sejumlah perusahaan telekomunikasi. Indosat salah satu anggota konsorsium ini.

Akibatnya, lalu lintas informasi Internet dari Amerika Serikat, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Kanada, Rusia, Cina, dan Korea terganggu. Untuk sementara, koneksi Internet dialihkan melalui jalur satelit serta jalur kabel laut lainnya.

Masalahnya, jalur satelit ini, selain terbatas, lebih lelet. "Saluran Internet lewat satelit empat kali lebih lambat dari fiber optik," kata Johar Alam, Komisaris Utama Internet Data Center Indonesia, perusahaan yang bergerak di bidang interkoneksi Internet.

Bila kecepatan ping fiber optik di bawah laut hanya butuh 250 milidetik, ping via satelit setidaknya 800 milidetik. Ping adalah sebuah aplikasi standar untuk menguji dua buah titik host yang berhubungan dalam jaringan Internet.

Menurut Johar, hal itu disebabkan oleh lebih panjangnya jarak yang harus ditempuh oleh data bila harus disalurkan melalui satelit. "Jarak antara stasiun bumi ke satelit sendiri bisa mencapai ribuan kilometer," ujar Johar.

Belum lagi kapasitas bandwidth satelit yang juga lebih terbatas. Johar mengatakan sebuah transponder satelit memiliki kapasitas bandwidth maksimum 45 megabita. Sedangkan sebuah satelit biasanya hanya mampu memuat puluhan transponder.

Di sisi lain, sebuah kabel optik dengan teknologi mutakhir dapat menampung bandwidth hingga 1,2 terabita. Akibatnya, saat dilakukan pengalihan dari saluran kabel laut ke satelit, akan terjadi antrean traffic yang cukup besar. "Itu yang membuat akses ke situs internasional sering putus," katanya.

Taufik dan 16 juta pengguna Internet Indonesia saat ini hanya bisa menunggu sebelum urusan kabel laut itu beres, yang diperkirakan menelan waktu satu sampai dua minggu. "Perbaikan masih menunggu redanya gempa susulan, yang masih terjadi di Taiwan," ujar Adita Irawati, Kepala Divisi Humas Indosat.

Nanang Setiawan | Eko Nopiansyah | Indra Darmawan

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :