Berkah Bencana Internet Asia

Jum'at, 29 Desember 2006 | 19:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Mungkin ada hikmahnya juga peristiwa darurat Internet Asia yang membuat akses Internet dari dan menuju kawasan ini mendadak down.

Seperti diwartakan kemarin, jalur komunikasi Internet di sebagian wilayah Asia terputus karena gempa 7,2 skala Richter di Taiwan. Gempa itu mengakibatkan empat kabel serat optik bawah laut yang menjadi saluran komunikasi negara-negara Asia ke Amerika Serikat putus.

Putusnya empat kabel serat optik itu membuat kapasitas bandwidth (saluran lalu lintas data) dari Indonesia ke Amerika Serikat anjlok menjadi 17 persen dibanding saat normal.

Jaringan Internet di kawasan Asia memang mengandalkan kabel serat optik bawah laut sebagai jalan tolnya. Saat gempa terjadi di Taiwan, "jalan tol" itu ambrol. Padahal komunikasi data Indonesia sebagian besar melewati jalan tol bawah laut yang disebut jalur South East Asia-Middle East-Western Europe 3 (SMW3) itu.

Untuk mengatasi hal itu, sebagian data dialihkan ke jalur alternatif lewat satelit. Pemerintah Indonesia langsung berakrobat dengan mengizinkan penggunaan satelit asing sebagai alternatif akses Internet. Padahal sebelum ini, hal semacam ini dilarang.

Tapi tetap saja jalan alternatif itu terlalu sempit. Lalu lintas data kisruh. Internet lumpuh. Para pengguna Internet dan pengusaha warnet pun mengaduh.

Pembangunan dan perbaikan kembali kabel serat optik tersebut jelas tak bisa kelar dalam satu-dua hari: paling tidak akan memakan waktu tiga pekan hingga satu bulan ke depan.

Yang jelas, sudah saatnya Indonesia memikirkan skenario untuk mengantisipasi bencana semacam ini.

Mengubah kebijakan dengan cara mengizinkan operator menggunakan satelit asing paling tidak akan mampu menjadi salah satu back-up di masa yang akan datang. Meskipun kapasitas satelit tidak sebesar kabel serat optik, akses penggunaan satelit ini layak menjadi pertimbangan sebagai "contigency plan".

Tetapi masalah yang paling mendasar sesungguhnya bukan pada keberadaan kabel bawah laut atau satelit asing. Jika Indonesia punya berbagai rute kabel bawah laut sekalipun, atau punya banyak akses ke berbagai satelit asing sekalipun, masalahnya akan sama saja jika terjadi lagi bencana yang menghantam sisi teknis seperti tempo hari: kita akan kelimpungan lagi dalam waktu yang lama.

Kenapa? Indonesia memiliki ketergantungan yang besar terhadap pihak asing. Bayangkan, seperti ditulis editorial Koran Tempo Jumat (29/2), 80 persen bandwidth yang digunakan penyedia jasa Internet di negeri ini bergantung pada pihak luar negeri! Pasalnya, sebagian besar content (isi) yang diakses dan digunakan oleh orang Indonesia adalah content asing dan ditempatkan di server luar negeri pula.

Jika setiap hari Anda menggunakan Yahoo dan Google untuk mencari arsip atau mengirim mailing-list, mengakses CNN.com dan BBC.co.uk untuk baca berita, atau suka bertelepon via Skype; berarti Anda ikut menyumbang pemborosan bandwidth asing yang 80 persen itu.

Padahal, jika ketergantungan Indonesia pada bandwidth asing tak sebesar itu, mungkin rona lalu-lintas akses Internet di negeri ini tak perlu seseram tempo hari: gelap gulita. Bukankah ketika bencana internet Asia terjadi, situs-situs yang nangkring di server-server Indonesia masih bisa diakses?

Ya, kinilah saatnya mendorong dan menciptakan content dan layanan lokal yang ditaruh di Indonesia. Layanan mailing-list lokal semacam groups.or.id perlu didukung. Beberapa layanan situs, blog, dan aggregator lokal, perlu dipertimbangkan untuk kita gunakan bersama-sama.

Dari sisi pemerintah, sudah saatnya pemerintah mendorong munculnya penyedia content dan aplikasi lokal agar ke depan ketergantungan kita terhadap "jalan tol" asing jadi berkurang. Mestinya pemerintah juga bisa mengalokasikan dana ratusan miliar rupiah untuk upaya ini -- seperti rencana kolosal pembelian lisensi sebuah sistem operasi.

Publik pengguna Internet pun diharapkan mulai melirik layanan domestik. Mungkin layanan lokal belum secanggih layanan luar, tetapi jika penggunanya banyak sehingga traffic-nya tinggi, jelas pengusaha lokal akan punya "nafas" untuk mempertahankan dan mengembangkan bisnisnya ini.

Jadi solusi dan kenyamanan akses bagi pengguna Internet Indonesia dalam jangka panjang sesungguhnya tidak terletak pada pada kabel bawah laut ataupun satelit asing, tetapi pada seberapa banyak layanan, aplikasi dan content lokal yang kita miliki.

Dengan demikian, Indonesia akan terhindar dari julukan "fakir bandwidth" -- istilah yang dilontarkan sebuah komunitas internet di Indonesia -- tapi justru sebaliknya, akan naik kelas jadi "raja bandwidth".

Alangkah indahnya jika momentum bencana Internet Asia ini bisa dijadikan batu loncatan bagi Indonesia untuk memposisikan diri jadi negara yang bukan lagi sekadar jadi penonton, tapi juga pemain, di ranah Internet.

Jika dengan kebijakan baru ini kemudian ternyata lahir bintang-bintang baru di jagat Internet Indonesia, bukankah bencana Asia ini ternyata juga bisa jadi suatu berkah dalam jangka panjang?

Budi Putra

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :