Sidik Video di Ranah Maya
Rabu, 01 Agustus 2007 | 11:12 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Saat pertemuan dengar pendapat antara Google dan pihak konglomerat media Viacom akhir pekan lalu, hakim Distrik Selatan New York Louis L. Stanton kembali menanyakan komitmen Google menyelesaikan pelanggaran hak cipta video di situs miliknya, YouTube.
"Google sedang bekerja dengan sangat intensif dalam teknologi pengenal video," ujar Phillip S. Beck, pengacara Google. Teknologi yang diharapkan dapat mencegah pelanggaran hak cipta itu sudah dapat diterapkan pada situs berbagi video YouTube mulai September mendatang.
Tekanan terhadap Google memang tak main-main. YouTube digugat US$ 1 miliar atau sekitar Rp 9,17 triliun oleh Viacom karena ada sekitar 100 ribu klip video di YouTube yang merupakan content hak cipta Viacom.
Content bermasalah itu meliputi berbagai video musik klip dari MTV (jaringan televisi musik milik Viacom) atau klip-klip yang dipotong dari program komedi The Daily Show.
Selain itu, Viacom meminta agar teknologi sidik video (video recognition technology) dapat segera diaplikasikan di YouTube. "Teknologi itu jelas dapat membantu. Kami akan sangat bersyukur dengan adanya teknologi itu," ujar Donald B. Verilli Jr, pengacara Viacom.
Seperti apa teknologi sidik video itu? Menurut Beck, teknologi ini nantinya akan mampu mengenali video-video yang diunggah pengguna. Jika video itu ternyata melanggar hak cipta, secara otomatis sistem akan menghapusnya dari situs YouTube.
Hal itu senada dengan keterangan CEO Google Eric Schmidt pada April lalu. Menurut dia, teknologi ini tidak memfilter atau mengeblok unggahan video dari pengguna. Namun, setelah video diunggah, "Teknologi ini dapat menghapus video yang melanggar dengan lebih cepat dan efisien," ujar Schmidt.
Biasanya sistem pengenal content digital menggunakan pangkalan data yang sangat besar. Pada pengenal audio, dibutuhkan pangkalan data berisi lagu-lagu yang memiliki hak cipta. Setiap kali pengguna mengunggah materi audio, situs itu akan langsung mencocokkannya dengan semua lagu yang ada di database-nya.
Namun, menyidik content video butuh teknologi yang lebih rumit lagi. "Menganalisis content video jauh lebih kompleks. Selain itu, perlu lebih banyak informasi yang harus disimpan untuk keperluan identifikasi," ujar Bill Rosenblatt, Presiden GiantStep Media Technology Strategies, firma konsultan yang berbasis di New York.
Walaupun demikian, Audible Magic sudah memiliki software pengenal video. Vance Ikezoye, Chief Executive Audible Magic, sempat mendemonstrasikannya kepada New York Times. Ia mengunduh sebuah klip dari YouTube selama dua menit.
Kualitas gambar video itu begitu buram karena, kelihatannya, pengunggah mengambil gambar itu dari bioskop dengan camcorder. Namun, software milik Audible itu tetap mampu mengenalinya sebagai adegan latihan pedang dalam film Kill Bill Vol. 2 (Miramax).
Google telah menggandeng Audible sejak awal tahun untuk mengadopsi sistem sidik audio di YouTube. Hal yang sama dilakukan oleh situs jejaring sosial terbesar MySpace.
Untuk menyediakan sistem penyidik video, memang dibutuhkan biaya yang tidak kecil. Tapi ini sebuah keharusan. Dan agaknya tak lama lagi para pengguna YouTube harus rela kehilangan content video bajakan.
nytimes | cbs | pcworld | indra darmawan




Komentar Anda :