|
Biar Bangun Lebih Mudah
Senin, 24 Maret 2008 | 15:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Banyak orang kini bergantung pada alarm sebagai alat untuk membangunkan dari tidur. Bisa jadi itu jam tangan, organizer, dan personal digital assistant atau PDA.
Namun, tak jarang bunyi alarm itu terabaikan. Alih-alih melek, kadang-kadang mereka hanya mematikan bunyinya, lantas terlelap kembali.
Untuk menghindari kasus yang sering membikin runyam ini, sebuah arloji baru diciptakan. Namanya Sleeptracker. Jam ini akan membangunkan penggunanya pada saat yang paling tepat dan efektif.
Sleeptracker mampu memonitor sinyal-sinyal tubuh, yang mengindikasikan penggunanya sedang tidur atau sedang dalam keadaan terjaga. Ia mendeteksinya melalui sebuah sensor yang memantau sinyal-sinyal fisik tubuh.
Lantas Sleeptracker akan menentukan saat yang paling tepat untuk membangunkan penggunanya. Walhasil, usahanya akan efektif.
Menurut teori yang menjadi dasar penciptaan Sleeptracker, saat tidur biasanya seseorang melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah tahap tidur ringan.
Tahap kedua adalah tahap ketika seseorang tidur lebih nyenyak. Adapun pada tahap ketiga dan keempat, seseorang memasuki fase delta (delta sleep). Di fase ini ia tertidur dengan sangat nyenyak.
Tahap berikutnya adalah rapid eye movement (REM), yang terletak di antara kondisi terjaga dan tahap pertama. Pada tahap inilah orang bermimpi.
Tahapan ini ditandai dengan perubahan psikologis dan gejala-gejala, seperti peningkatan aktivitas otak, akselerasi respirasi, gerakan mata yang semakin cepat, serta relaksasi otot.
Dalam satu periode tidur sepanjang delapan jam, rata-rata orang dewasa mengalami 4-5 siklus tahapan-tahapan itu. Namun, tiap orang memiliki siklus yang berbeda. Ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya jenis kelamin, diet, olahraga, konsumsi obat, alkohol, dan stres.
Nah, di antara siklus itu, terdapat momentum-momentum tertentu ketika seseorang hampir terjaga. Kondisi ini bisa dipicu oleh pengaruh luar, seperti suara bising.
Tapi kondisi hampir terjaga biasanya terjadi pada tahap REM. Ini terjadi sangat singkat, yaitu sekitar 20 detik saja. Nah, pada saat inilah seseorang sangat efektif untuk dibangunkan.
Sleeptracker pun membunyikan suara alarm atau fitur getarnya. Si pengguna akan mudah dibangunkan dari tidurnya.
Tak seperti pengaturan alarm biasa, pengguna Sleeptracker harus menentukan periode waktu tertentu kapan alarm dinyalakan. Arloji itu akan mencocokkan momentum hampir terjaga dengan setelan periode alarm tadi.
Dengan metode tersebut, orang yang dibangunkan pun akan merasa lebih segar saat ia benar-benar terjaga. "Saya telah membuktikan sendiri bahwa saya bisa bangun dengan segar tanpa merasakan keletihan," ujar Seoung-Koo Y. dari Lynchburg, Virginia, salah seroang pengguna arloji ini.
Sleeptracker tersedia dalam dua model: Sleeptracker standar (US$ 149 atau sekitar Rp 1,3 juta) dan Sleeptracker Pro (US$ 179 atau sekitar Rp 1,64 juta).
Keduanya tahan air. Namun, Sleeptracker standar hanya dilengkapi alarm. Adapun model Pro dilengkapi pula dengan fitur getar.
Tak hanya itu, Sleeptracker Pro juga dapat merekam data-data penggunanya saat sedang dalam kondisi tertidur untuk kemudian mengunduhnya melalui kabel USB. Pengguna pun bisa mengevaluasi dan menganalisis kondisinya pada saat tidur.
INDRA DARMAWAN | DIGITALREVIEWS | GADGETGRID | DEARDIARY
INDEKS BERITA LAINNYA :
|