close

Mewaspadai Bidikan Sony

Sabtu, 12 April 2008 | 10:55 WIB

Pada masa lalu, bila ada pertanyaan soal kamera single lens reflect (SLR) digital, biasanya yang muncul adalah: sebaiknya membeli Canon atau Nikon? Kini, pertanyaan seperti itu sudah usang.

"Sony kini wajib diwaspadai," kata seorang anggota staf di perusahaan distributor Canon di Indonesia kepada Tempo belum lama ini.

Sony kini mengancam dominasi Canon dan Nikon di pasar kamera tersebut. Apalagi setelah ia mengakuisisi Konica Minolta pada 2005. Sebagai alternatif di pasar yang berkembang, perusahaan elektronik asal Jepang itu telah meluncurkan seri Alpha sejak 2006. Kini hadir model terbarunya, A300 dan A350.

Sony A300 (dan model A350, dengan hitungan piksel lebih tinggi) dilengkapi penstabil gambar. Ini adalah teknologi yang membuat gambar tetap terekam bagus pada saat tak stabil menggenggam kamera.

Kamera yang dijual seharga US$ 799 dan US$ 899 ini juga dilengkapi teknologi fokus yang disebut autofocus predictive. Pada kamera lain, autofocus biasanya diakses dengan memencet tombol shutter setengah tekanan. Namun, pada A300 dan A350, cukup mengarahkan kamera ke obyek foto dan ia akan memprediksi sendiri fokusnya.

Maka, A300 dan A350 lebih mudah digunakan saat mengabadikan momentum yang tak terduga. Tinggal pencet dan kamera akan berusaha menampilkan gambar yang lebih tajam.

Dengan kamera ini, seorang ayah-atau bahkan seorang ibu-bisa berlaku bak fotografer andal. Mereka mengabadikan detik-detik putranya mencetak gol di sebuah pertandingan sepak bola, misalnya, secara mudah.

"Saya mencoba fitur ini di Washington saat seorang teman sedang menyetir. Saya mengambil gambar lewat jendela mobil secara cepat dan random, hasilnya kebanyakan tajam," kata Jefferson Graham, penulis di USAToday.

Kamera buatan Sony ini juga menyediakan fitur live view sehingga pengguna bisa melihat obyek foto lewat layar LCD sebelum memotret. Cara ini tak dimiliki kebanyakan kamera SLR digital, yang biasanya membidik sasaran lewat lensa bidik.

Untuk mengaksesnya, cukup mengklik tombol di bagian atas kamera. Kamera SLR digital buatan Canon, Rebel XSi, juga memiliki fitur ini, tapi mengaksesnya cukup rumit. Pengguna mesti membuka menu dan melewati sejumlah langkah.

Kekurangan kamera ini hanyalah pada aksesori dan lensa yang tak sebanyak pembuat kamera lainnya. Untuk menghasilkan variasi sudut pengambilan gambar, mulai dari ultra-closeup sampai wide angle, biasanya dibutuhkan banyak lensa.

Inilah celah, selain soal harga yang lebih mahal, bagi Canon dan Nikon yang juga merilis pesaing A300, yaitu Nikon D60 dan D40 (US$ 749 dan US$ 499) dan Canon Rebel XSi (US$ 899).

Kecuali fitur autofocus predictive, kamera Nikon dan Canon memiliki banyak persamaan dengan A300 dan A350. Namun, Nikon dan Canon memiliki variasi lensa lebih dari 50 dan ratusan aksesori. Sedangkan seri Alpha hanya memiliki 24 variasi lensa.

Rebel XSi adalah penerus XTi dengan tubuh lebih kecil tapi memiliki layar LCD besar (3 inci). Kamera yang bernama lain EOS 450D ini dilengkapi pula dengan fitur live view, kontrol manual yang ditingkatkan, serta resolusi yang lebih baik.

Adapun D40 ditujukan bagi pembeli kamera SLR digital pemula, melihat harganya yang jauh di bawah pesaingnya. Kekurangannya hanya pada sensornya yang hanya 6 megapiksel, bandingkan dengan Sony yang 10 MP dan Nikon yang 12 MP.

D40 juga bisa autofocus, tapi hanya dengan lensa baru yang muncul pada era SLR digital. Bila memakai lensa lawas, hanya bisa fokus secara manual.


BOOKMARK
Sony Alpha: adalah merek kamera SLR digital keluaran Sony yang diperkenalkan pada 5 Juni 2006. Seri ini mengembangkan teknologi kamera dari Konica Minolta, yang diakuisisi Sony pada 2005. Minolta sebelumnya menggunakan brand Alpha di Jepang melalui kamera sistem AF mereka, yang dijual dengan nama Dynax di Eropa dan MAxxum di Amerika Utara.

DEDDY SINAGA | USATODAY | DIGITALCAMERAREVIEW | ZDNET | CNET

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda [1] :

  • Makin ngiler sony a300

    Wah, makin ngiler aja nih sama Sony A300 nih

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan