Si Mungil yang Kukuh
Senin, 14 Juli 2008 | 14:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Perangkat ini bukan telepon seluler. Ia terbilang mungil untuk ukuran sebuah kamera video tangan alias handycam. Perangkat ini adalah Sony HDR-TG1. Pekan lalu, ia diluncurkan untuk pasar Indonesia.
Handycam ini berdimensi hanya 32 x 119 x 63 milimeter dengan bobot 300 gram. Ia didesain penuh gaya dengan kombinasi warna abu-abu dan hitam.
Keunikan lain, inilah handycam pertama yang disusun dari rangka material titanium murni. Tubuh bagian luarnya juga dibungkus bahan antigores premium hard coating sehingga ia akan awet untuk pemakaian lama.
"Untuk pertama kalinya titanium murni digunakan sebagai rangka agar konstruksinya kukuh namun tetap ringan," ujar Kazuo Sawachi, General Manager sekaligus Marketing Division Head PT Sony Indonesia, saat peluncuran kamera itu di Jakarta pada pekan lalu.
Meski kecil, HDR-TG1 mampu merekam video berdefinisi penuh dengan resolusi 1.920 x 1.080i. Ia juga dapat menangkap gambar yang jernih dan terang dengan resolusi hingga 4 megapiksel dan menyimpannya dalam kartu Memory Stick Duo.
Kartu memori ini mampu menampung video dengan kapasitas 16 gigabita. Artinya, ia sanggup merekam definisi penuh selama dua jam atau 7.700 keping foto digital. Dengan fitur My HD to Go, kamera ini mampu merekam video berdefinisi tinggi saat bergerak atau dalam perjalanan.
Keunggulan tersebut menempatkan kamera video ini sebagai handycam berdefinisi tinggi paling kecil dan ringan di dunia. Ia mendukung format perekaman AVCHD dengan codec MPEG-4 AVC/H.264 yang memampatkan format definisi tinggi menjadi lebih kecil tanpa mengurangi kualitasnya. Kamera ini juga masih mampu merekam secara standar.
HDR-TG1 dilengkapi sensor 1/5 ClearVid CMOS dengan teknologi yang diambil dari Exmor dan mesin olah gambar BIONZ Imaging Processor. Dengan teknologi ini, gambar dijamin jernih, terang, sensitif, serta rendah noise.
"Kerja sama" antara ClearVid CMOS dan mesin olah gambar BIONZ membuat data ekstra besar bisa diproses dengan kecepatan tinggi. Rentang warna menjadi lebih lebar dan dinamis sehingga gambar akan tampak lebih hidup. Selain itu, ia pun sensitif pada kondisi kurang cahaya.
Kamera ini juga mampu memotret pada saat moda perekaman video berlangsung. Namun, resolusinya turun menjadi 2,3 megapiksel saja. Ia pun memiliki fitur pendeteksi wajah, teknologi yang biasanya ditanamkan pada kamera digital.
Fitur pendeteksi wajah ini dapat mengenali hingga delapan wajah di layar LCD camcorder. Secara otomatis, akan lebih banyak piksel yang dialokasikan ke wajah-wajah yang terdeteksi pada saat proses encoding. AVCHD berfungsi mengoptimalkan fokus, exposure, dan warna untuk mendapatkan warna kulit yang lebih natural.
Hasil rekaman kamera ini bisa dinikmati di media pendukung berdefinisi tinggi melalui kabel HDMI. Salah satunya adalah televisi Bravia buatan Sony. Satu remot Bravia dapat dipakai untuk mengakses isi kamera. Isi kamera video ini juga bisa dinikmati di laptop Sony Vaio.
Pengguna bisa langsung "membakar" isi kamera ke DVD atau AVCHD pada Handycam Station dengan satu sentuhan. Fitur Easy PC Backup juga bisa dipakai untuk membuat salinan rekaman ke komputer pribadi secara otomatis.
Antarmuka kamera video yang sudah dijual di Jakarta mulai bulan Juli ini sangat user friendly. Pengguna bisa mengambil gambar, melihat, dan mengedit hasil rekaman melalui sentuhan jari pada layar 2,7 incinya. Ia bisa dibeli dengan harga Rp 9,9 jutaan.
BADRIAH
BOOKMARK
Noise: dalam elektronik mengacu pada sinyal elektronik yang berhubungan dengan gangguan pada sistem audio atau sinyal elektronik yang berkaitan dengan warna "salju" pada tayangan televisi atau rekaman video.





