Tak mampu Beli Obat, Minan Gantung Diri
Minggu, 11 Januari 2004 | 18:57 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Minan bin Misan, warga Kampung Pengasinan 2 RT 03/17, Kelurahan Pengasinan, Rawa Lumbu, Bekasi, mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungkan lehernya ke langit-langit kamar mandi.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo News Room, peristiwa itu terjadi pada Minggu (11/1). Kuli bangunan ini diketahui sudah tak bernyawa ketika istri dan anaknya bangun menjelang subuh.
Menurut Saerah, istri korban, suaminya yang berumur 28 tahun tersebut sudah lama menderita maag. Berbagai obat yang diperoleh dari dokter maupun puskesmas, tak kunjung membuat Minan sembuh.
Terakhir, kata Saerah, suaminya berobat ke rumah sakit. Namun, resep obat yang diperoleh tidak mampu dibelinya. Minan sudah mencoba mencari pinjaman uang ke sana kemari untuk menebus obat ke apotik. “Saat ke kamar mandi, suami saya sudah ngegantung,” kata Saerah.
Dipagi buta itu, tetangga dan keluarga Saerah berdatangan. Misan, ayah korban, ikut melepas tali yang melilir leher Minan. Kata Saerah, sudah setahun suaminya sakit maag. “Sakit dan perih,” kata dia menirukan keluhan suaminya.
Minan sehari-hari bekerja kuli bangunan dengan upah Rp 20 ribu. Pendapat itu tidak rutin diperolehnya saban hari. Pekerjaannya tergantung ada orang yang menyuruhnya.
Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Bekasi Timur Inspektur Satu Erwin Siboro membenarkan peristiwa bunuh diri tersebut. “Kondisi rumah tangga korban sangat memprihatinkan. Mungkin korban putus asa dengan penyakit yang dideritanya,” kata Erwin menganalisa.
Menanggapi kasus bunuh diri karena sakit yang dilatarbelakangi oleh kesulitan ekonomi, Ketua Pendiri Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan Jakarta Iskandar Sitorus menilai, pemerintah setempat lalai terhadap warganya. “Masyarakat putus asa dan akhirnya ambil jalan pintas,” kata Iskandar.
Siswanto-Tempo News Room




Komentar Anda :