Terminal Kedatangan TKI Akan Pindah ke Ciracas
Rabu, 11 Februari 2004 | 15:37 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Dalam waktu dekat, pemerintah akan memindahkan tempat penjemputan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), dari Terminal III Bandara Soekarno-Hatta ke Ciracas, Tangerang. Hal ini untuk menghindari sejumlah persoalan, diantaranya pemerasan dan praktek percaloan terhadap para TKI. "Tidak mungkin memberantasnya, jika tidak diambil tindakan lebih maju. Karena praktek itu sudah mengakar sejak 23 tahun lalu," kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Yacob Nuwa Wea saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Rabu (11/2).
Menanggapi soal kemacetan yang ditanyakan Komiisi VII, Yacob menjamin proses penjemputan TKI di Ciracas tidak akan mengalami kemacetan. Karena secara teknis akan dilakukan mekanisme penjemputan yang terbilang rapi dan ekslusif dengan tidak memberangkatkan TKI ke Ciracas secara iring-iringan. "Proses penjemputan para TKI akan dilalukan seperti halnya menjemput menteri. Saat keluar pesawat, serta merta setiap TKI dijemput petugas dari pintu belakang, naik mobil khusus, lalu dari Terminal II langsung diberangkatkan ke Ciracas. Soal barang bawaan, biar kita yang urus," kata Jacob lagi.
Di terminal Cicaras, kata Yacob, pendataan TKI akan dilakukan lagi seperti halnya di terminal II. Sambil menunggu proses pendataan, para TKI bisa menikmati fasilitas ruangan ber-AC yang dilengkapi dengan faslitas lainnya seperti musik, bank, warung telekomunikasi (wartel), money changer, kantin, musola, toilet, layanan penerangan, informasi dan pengaduan. Dengan begitu, Yacob menjamin terminal Ciracas bakal mengurangi persoalan kedatangan TKI sekaligus memberikan perlindungan dan rasa aman.
Selama ini berbagai persoalan muncul baik di terminal II maupun III, saat kedatangan para TKI. Di terminal II misalnya, terdapat banyak kasus TKI yang datang tanpa atau kehilangan kartu imigrasi. Selain itu, sulit mengidentifikasi TKI atau penumpang biasa, karena TKI berusaha menghindar dibawa ke terminal III lantaran takut akan percaloan dan pemerasan. "Padahal tiap harinya, 800-1.000 TKI datang ke Bandara Soekarno-Hatta," kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Edie Haryoto pada kesempatan lain.
Di terminal III yang selama ini dianggap rawan, karena terkenal sebagai tempat pemerasan, penipuan dan sejenisnya, persoalan tidak kalah rumitnya. Bahkan selain minimnya fasilitas, masalah lain muncul seperti jasa pengangkutan ke tempat tinggal TKI, pelayanan dan penjemput. Selain itu, ada juga masalah lain seperti pedagang liar, asongan, tenda biru, porter liar, angkutan liar, ojek, parkir liar, pungutan liar dan lainnya. "Kami sangat senang jika TKI ini dikelola sama seperti penumpang lainnya. Kami hanya navigator, mengatur lalu lintas penerbangan dan pengelolaan 10 bandara. Lebih dari itu tidak," kata Edie.
Masalah lain, kata Edie, adalah kondisi dan kapasitas terminal III yang sudah tidak memadai sebagai terminal kedatangan TKI. Tiap tahunnya, 19-21 juta TKI datang ke terminal yang berkapasitas maksimal 18 juta orang pertahunnya itu. "Mau tidak mau, tahun ini harus dibongkar," kata Edie lagi. PT Angkasa Pura II selaku penyelenggara Bandara Soekarno-Hatta juga mengaku kesulitan dan justru mengalami kerugian setidaknya Rp. 1,8 milyar per tahun untuk keperluan pelayanan TKI. Beban rutin setiap tahun itu merupakan ongkos bus para TKI dari terminal II ke terminal III yang diberikan secara gratis.
Ecep S. Yasa - Tempo News Room





