Tanggul Sungai Citarum Membahayakan Warga
Selasa, 24 Februari 2004 | 12:13 WIB
TEMPO Interaktif, Bekasi:Kondisi tanggul Sungai Citarum di Kampung Cabang, Desa Jaya Sakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, sudah dalam tingkat yang mengkhawatirkan bagi warga yang tinggal di sekitarnya.
Menurut Wakil Bupati Bekasi Solihin Sari, tanggul yang menahan derasnya aliran Sungai Citarum itu sangat membahayakan warga yang tinggal di dekatnya apabila jebol. "Ini perlu segera mendapatkan penanganan," ujarnya.
Adapun tanggul yang dinilai rawan mengalami jebol itu panjangnya sekitar 200 meter. Saat ini, lebarnya tinggal sekitar satu meter saja dan tingginya sekitar tiga meter. "Coba kalau ada banjir susulan, ini bisa jebol, dan warga di bawahnya bisa jadi korban," tambah Solihin.
Pengikisan tanggul sungai itu mulai parah setelah musim penghujan yang belakangan ini terus melanda di wilayah itu. Hujan mengakibatkan sungai banjir dan airnya terus menipiskan tanggul itu. Tanggul itu sendiri sebelumnya memiliki lebar tak kurang dari tujuh meter.
Tanggul Sungai Citarum yang membentang dari arah Kecamatan Pebayuran hingga Kecamatan Muara Gembong menuju Laut Jawa itu panjangnya sekitar 20 kilometer. Namun, yang dinyatakan rawan mengalami jebol oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi sebenarnya ada sekitar 400 meter dari Desa Setia Laksana sampai di Desa Jaya Sakti.
Dari total panjang tanggul 400 meter, yang dinyatakan dalam kondisi siaga satu adalah sepanjang 150 meter. Sekitar 250 meter lagi terletak di Desa Setia Laksana, Kabupaten Bekasi. "Ini perlu segera dibuat penahan sementara, pakai karung pasir sampai dibangun," kata Solihin.
Sedangkan Komandan Rayon Militer (Danramil) 04 Cabang Bungin, Didik Suryanto mengungkapkan, setelah hujan terus-terusan dan terjadi banjir bandang, tanah tanggul itu terus terkikis. "Ini rawan sekali, kalau tanggul jebol, Desa Jaya Sakti bisa tenggelam," kata dia.
Sungai Citarum sendiri memiliki lebar sekitar 180 meter. Jarak dari Desa Jaya Sakti ke muara Laut Jawa sekitar lima kilometer saja. Bantaran sungai itu dikenal sebagai pertemuan antara air tawar dengan air asin. Kalau air laut sedang pasang, airnya akan naik menyusuri sungai sampai sejauh delapan kilometer.
Menurut Didik, karena kondisi tanggul sungai sudah dinilai rawan mengalami jebol, baik perangkat Desa Jaya Sakti, Koramil, dan pihak Kecamatan Muara Gembong beberapa hari terakhir ini telah berkoordinasi untuk mengantisipasi banjir susulan.
Adapun upaya yang akan dilakukan untuk sementara ini dengan memasang karung yang diisi dengan pasir. "Kalau enggak begitu rawan longsor, ini sangat berbahaya," kata Didik.
Seorang warga setempat, Taryudi, 44 tahun, mengaku gelisah jika hujan turun, lalu banjir dan menjebol tanggul. "Desa Jaya Laksana pasti kena paling parah, belum desa lainnya," kata warga Desa Pantai Makmur Rt 01 itu.
Menurut Taryudi yang mengaku sudah tinggal di sekitar tanggul selama delapan tahun lebih itu, saat ini Sungai Citarum sudah tidak terawat dengan baik. "Buktinya, sekarang kedalaman kali paling belasan meter, padahal dulu sampai 30 meter," kata dia.
Taryudi juga mengatakan ketika banjir melanda wilayah itu, air Sungai Citarum meluap dan tumpah ke desa. "Tinggi air sungai itu lebih tinggi dari jalan raya kampung, hanya dibatasi dengan tanggul itu," ujarnya.
Berdasarkan pengamatan Tempo News Room, untuk memperkuat tanggul itu warga menanaminya dengan rumput dan pohon di bagian luarnya. Namun, tanggul yang berada di bagian dalam yang menyentuh air sudah sebagian hilang.
Siswanto - Tempo News Room
Topik :




Komentar Anda :