Ratusan Rumah di Bekasi Nyaris Roboh

Minggu, 07 Maret 2004 | 14:40 WIB

TEMPO Interaktif, Bekasi:Sedikitnya 100 rumah penduduk di Desa Sirna Jati dan Cibarusah Kota, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, nyaris amblas tergerus aliran Sungai Cipamingkis. Warga mengeluhkan sikap pemerintah setempat yang tidak tanggap terhadap kondisi tersebut, misalnya dengan membangun tanggul.

Menurut tokoh Desa Sirna Jati, Eli, 70 tahun, terakhir kali, rumah amblas saat musim penghujan akhir Februari 2004 lalu. Dalam sebulan itu, sebanyak empat rumah penduduk amblas ke dasar sungai. "Tanah di sini sangat labil, ada gerakan sedikit saja tanah amblas ke bawah," ujarnya.

Saat ini, keempat pemilik rumah itu sudah pindah ke lokasi lain. Adapun lokasi yang rawan amblas panjangnya sekitar tiga kilometer.

Menurut Eli, semenjak pertengahan 1990, sudah sekitar 90 rumah penduduk di dua desa itu yang rubuh karena tanah tempat rumah itu berdiri amblas dirongrong aliran air sungai Cipamingkis. "Mungkin (jumlahnya) lebih, karena mereka semua pada pindah masing-masing ke desa lainnya," tambah Eli yang mengaku sudah puluhan tahun tinggal di tempat itu.

Sementara penduduk yang masih mendiami lokasi di sepanjang sungai itu, termasuk Eli, tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun warga sudah berupaya menanami bagian tepi tanah yang mudah amblas dengan pohon pisang, rumput-rumputan, tetap saja tidak dapat menyelesaikan persoalan. Sedikit demi sedikit, tanah rontok ke bawah.

"Kita juga menuruti pesan orant tua untuk menanami sirih, katanya bisa untuk menyelamatkan jurang ini, tapi tetap saja longsor," kata Eli.

Lokasi yang sudah rawan amblas itu membentuk sebuah tebing yang curam. Kedalaman tebing sekitar 13 meter. Di bagian dasar sungai terdapat bebatuan cadas. Supaya warga yang berjalan kaki tidak terperosok ke jurang itu, mereka hanya membuat pagar sebagai penanda tebing curam.

Rumah Eli juga nyaris amblas. Rumah berbahan batu bata itu persis berada di bibir tebing yang curam. Jarak antara dinding luar rumah ke tebing hanya sekitar satu meter saja. "Sebenarnya kita khawatir kalau-kalau amblek di malam hari, tapi bagaimana lagi, kalau pindah kita tidak punya tanah lagi," kata dia.

Pada 1990 lalu, penduduk desa itu pernah mengajukan kepada pemerintah supaya diperbaiki. Waktu itu, kata Eli, memang pernah ditinjau oleh Asisten Daerah I Kabupaten Bekasi 2. Namun, pihak pemerintah setempat hanya memindahkan tiang listrik saja, sedangkan tanggul itu tidak di sentuh.

Menurut Eli, kejadian musibah longsor pada 1995 lalu adalah yang paling parah. Pasalnya gedung Sekolah Dasar Cibarusah yang terletak di RT 2/1 ikut amblas. Begitu juga dua buah rumah milik Eli. "Waktu itu enggak ada korban jiwa, tapi tanah hilang sama rumahnya," kata dia.

Pihak Dinas Pengairan Kabupaten Bekasi, kata Eli, sebenarnya sudah mengetahui kondisi itu. Tetapi, sampai sekarang belum ada upaya untuk membangun tanggul. Warga menyesalkan sikap pihak pemerintah setempat yang dinilai hanya berjanji saja untuk merealisasikan tuntutan warga. "Cuma diukur-ukur saja oleh petugas, kemudian diberi patok-patok (tanda), itu saja," kata Eli.

Siswanto - Tempo News Room

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :