Unjuk Rasa Menolak Pemilu 2004
Senin, 15 Maret 2004 | 14:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menolak pemilihan umum (Pemilu) 2004, puluhan orang dari Konsentrasi Gerakan Mahasiswa (KGM) berunjuk-rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (15/3). Rakyat tidak butuh Pemilu, tapi pendidikan gratis dan pemberantasan korupsi," kata Arif, juru bicara KGM.
Para pengunjuk rasa menilai, Pemilu 2004 tidaklah berbeda dengan Pemilu sebelumnya. Karena penggunaan sistem proporsional terbuka pada Pemilu 2004 ternyata berbuntut, partai politik tetap saja mengatur penetapan orang-orang yang duduk pada parlemen nantinya. "Apa bedanya dengan Pemilu sebelumnya?" kata Arif.
Menurut Arif, sistem proporsional terbuka adalah tiap pemilih berhak memilih tanda gambar, partai dan nama caleg, serta boleh memilih tanda gambarnya. Tapi, jika pemilih hanya memilih nama caleg, kertas suara dianggap tidak sah. Konsekuensinya, bila pemilih hanya memilih tanda gambar, penetapan orang yang duduk di parlemen diatur oleh partai politik masing-masing. "Sehingga Pemilu tidak akan membawa perubahan bagi rakyat yang hanya dijadikan objek politik. Rakyat harus menolak Pemilu 2004, karena jelas hanyalah ajang pencarian kekuasaan belaka para politisi," kata Arif.
Muhamad Fasabeni - Tempo News Room





