Gubernur Sutiyoso: Monorel Jalan Terus Tepat Waktu
Senin, 15 Maret 2004 | 17:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah Jakarta akan turun tangan mengatasi masalah perizinan kawasan yang dilalui jalur monorel. "Nanti pemerintah Jakarta yang maju," kata Gubernur Jakarta Sutiyoso kepada wartawan di Balai Kota, Senin (15/3).
Sutiyoso mengatakan, proyek monorel tidak akan menggunakan lahan masyarakat. Karena itu, tidak ada pembebasan lahan dalam proyek ini. Hanya saja, karena monorel akan melewati gedung-gedung di Jakarta, maka pemerintah Jakarta akan mengurusi masalah izin ini. "Kita akan dekati mereka," ujar Sutiyoso.
Sutiyoso tidak menjelaskan secara rinci maksud pendekatan itu. Namun, dia mengatakan, seharusnya pemilik kawasan yang dilalui jalur monorel paham, jika monorel dibangun mengatasi masalah transportasi Jakarta. "Ini kan untuk kepentingan umum," tegas Sutiyoso.
Seperti ditulis Koran Tempo, pelaksana proyek monorel Jakarta, Indonesia Transit Central (ITC) mengaku kesulitan mendapat izin dari pengelola kawasan yang dilalui jalur monorel. Sudirman Central Business District adalah salah satu pengelola yang memberi izin itu. "Kami akan memberikan izin, jika rancangan monorel sesuai dengan rencana kami," kata Amsil Sekretaris Perusahaan Danayasa Arthatama, pengelola kawasan tersebut.
Pengelola Gelora Bung Karno juga menawar rancangan monorel yang diajukan ITC. Menurut sumber Tempo News Room di ITC, pengelola Gelora Bung Karno meminta ITC tidak membangun stasiun monorel di sekitar Plaza Senayan, yang masuk dalam pengelolan Gelora Bung Karno.
Sementara itu, Gubernur Sutiyoso sendiri berkukuh meminta, pembangunan fisik proyek monorel bisa dimulai pada pertengahan tahun ini. Alasannya, pemerintah Jakarta sudah pamer publikasi monorel akan siap pada tahun 2006. "Saya tidak mau mencanangkan, terus nanti tiba-tiba berhenti," tegas Sutiyoso.
Di pihak lain, Asisten Gubernur Bidang Pembangunan IGKG Suena mengatakan, pemerintah Jakarta akan meminta klarifikasi ITC soal mitra bisnis yang akan menggarap monorel Jakarta. Selama ini Sutiyoso menggadang-gadang nama Hitachi Jepang untuk menggarap monorel. Hanya saja, menurut Suena yang mengutip ITC, MTrans Malaysia yang dikabarkan tidak bisa lagi menggarap monorel, ternyata masih mempunyai kesempatan menggarap proyek ini.
Sepengetahuan Suena, dua nama ini, Hitachi dan MTrans, masih terlibat negosiasi dengan ITC. Tapi, untuk memperjelas masalah ini, Suena akan memanggil ITC untuk klarisikasi, agar monorel bisa berjalan menuju tahap selanjutnya. "Minggu ini ITC akan memberi jawaban," kata Suena.
Direktur Utama ITC Ruslan Dwiwiryo mengatakan, selain dua nama itu, masih ada sebuah perusahaan, yaitu Bombardier yang layak diperhitungkan menggarap monorel. Hanya saja, menurut Ruslan, baik Hitachi dan Bombardier belum mengajukan proposal resmi kepada ITC. Sedangkan MTrans, yang menawarkan hybrid monorel sangat sulit diterima ITC, karena belum terbukti kecanggihannya. "Kasarnya, kita tidak bisa lagi menerima MTrans," kata Ruslan.
Ruslan mengatakan, meskipun belum mengajukan proposal resmi, tawaran Hitachi bisa mencapai angka US$ 700 juta. Karena itu, kata Ruslan, ITC menawar harga itu. "Kalau tidak, harga tiket akan membubung tinggi," ujar dia. Ruslan berjanji, dalam waktu dekat akan memberikan jawaban soal monorel ini kepada pemerintah Jakarta.
Multazam - Tempo News Room
Topik :




Komentar Anda :