Sutiyoso Protes Rencana Pembatalan Tukar Guling SMP 56

Senin, 15 Maret 2004 | 18:55 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mempertanyakan rencana PT Tata Disantara yang akan membatalkan tukar guling (ruilslag) SMP 56 Melawai, Jakarta Selatan. Padahal, menurutnya, pihaknya sudah berusaha membantu menyelesaikan masalah ini.

Sutiyoso mengatakan Pemprov Jakarta sebenarnya hanya menunggu keputusan hukum dari kasus tukar guling ini. Lagipula, katanya, Pemprov Jakarta merasa kasus ini hanya limpahan dari Departemen Pendidikan.

Hanya saja, Sutiyoso curiga dengan maksud PT Tata Disantara yang akan membatalkan tukar guling SMP 56 ini. "Ada apa ini kok tiba-tiba balik kanan," kata Sutiyoso kepada wartawan di Balai Kota, Senin (15/3).

Menurut Sutiyoso, phaknya sudah berusaha membantu menyelesaikan kasus ini. Utamanya mengenai proses belajar siswa SMP 56. Tempat yang ditawarkan untuk tukar guling di Jeruk Purut dan Bintaro, bahkan, katanya, sudah digunakan untuk proses belajar-mengajar.

Sutiyoso protes jika PT Tata membatalkan proses tukar guling. "Ini akan menyulitkan kami. Tidak bisa seenaknya begitu dong," ujar Sutiyoso.

Masalah tukar guling SMP 56 berawal dari perjanjian antara PT Tata Disantara, perusahaan milik pengusaha Abdul Latief dengan Departemen Pendidikan. Tata Disantara tertarik karena lokasi SMP 56 berada di kawasan Blok M. Sebagai ganti, Tata Disantara menawarkan bekas sekolah Al Azhar di Jeruk Purut dan Bintaro.

Belakangan, proses tukar guling ini ditolak guru dan siswa SMP 56. Alasannya, proses tukar guling cacat hukum dan menghambat pendidikan. Guru dan siswa menempuh jalan panjang untuk menyelesaikan masalah ini. Dari demonstrasi sampai mengadu ke DPRD dan Komnas HAM.

Sementara itu, massa pendukung penolakan tukar guling SMP 56 Melawai hari ini (15/3) melakukan long march ke Pasaraya Blok M, tempat PT Tata Disantara berkantor.

Karena pintu gerbang samping Pasaraya sudah ditutup, akhirnya rombongan yang terdiri dari ratusan orang tersebut menuju pintu utama Pasaraya di depan Hotel Ambara, Jalan Iskandarsyah.

Di depan pintu gerbang sempat terjadi keributan karena para pengunjuk rasa meminta agar pintu gerbang dibuka dan diperbolehkan masuk. "Kasihan anak-anak kepanasan," kata Nurlaela, Guru SMP 56 Melawai. Namun pihak Pasaraya bersikeras tidak membuka gerbang karena takut akan menganggu tamu di pusat perbelanjaan.

11 orang perwakilan dari pihak yang menolak tukar guling akhirnya diterima oleh Harun Kusuwardhono, Director Corporate Planing & Development Alatief Corporation, dan Dian A Zulkarnain, Public Relation & Promotion Manager. Pertemuan berlangsung di lantai I gedung
Pasaraya.

Perwakilan dari SMP 56 Melawai, antara lain kordinator advokasi Lies Sugeng, Kuasa Hukum Lambok Gultom, Guru SMP 56 Melawai Nurlaela, artis Titi Qadarsih serta perwakilan dari orang tua murid SMP 56 Melawai.

Awal pertemuan tersebut berlangsung panas dengan mempertahankan opini dari masing-masing pihak.
Akhirnya Harun dapat memberikan keterangan mengenai posisi perusahaannya dalam kasus ini. "Kalau ibu-ibu ingin bertemu dengan kami silakan datang tidak perlu ramai-ramai," kata Harun.

Pada kesempatan itu, Harun menjelaskan pihaknya sudah berusaha melakukan perjanjian tukar guling sesuai prosedur. "Sebenarnya kita pihak yang sama-sama dirugikan," kata Harun menjelaskan.

Suasana menjadi tegang lagi karena pihak SMP 56 Melawai menganggap proses perjanjian tukar guling tidak sah karena tidak mengikuti prosedur. "Ibu-ibu jangan menuduh kami KNN, nanti jadi lain ceritanya," lanjut Harun.

Harun juga menekankan, jika nanti ditemukan adanya penyimpangan prosedur, PT Tata siap untuk membatalkan proses tukar guling tersebut. "Kami akan membatalkan ruilslag ini jika terbukti tidak sesuai prosedur," ujarnya.

Seusai pertemuan Lambok menjelaskan sikap pihak PT Tata Disantara tidak konsisten karena di satu pihak PT Tata Disantara menunggu prosews hukum, tapi jika Pemda mengeksekusi SMP 56 Melawai, mereka tidak mau campur tangan. "Pada kenyataannya PT Tata tidak bisa mendorong tidak dilakukan eksekusi," jelas Lambok. Sementara itu Harun Kusuwardhono mengkhawatirkan jika pernyataannya digunakan untuk menyerang Pemda.

Rombongan massa pendukung dan akademisi SMP 56 Melawai kemudian mendatangi Departemen Pendidikan Nasional di Sudirman dengan membawa kain putih berisi tanda tangan dukungan. Namun di sana mereka hanya diterima oleh staf yang tidak mengerti permasalahan. "Kami sangat kecewa," kata Lambok.

Multazam/Priandono Kusumo - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: