Warga Akibat Kebocoran Gas Masih Mengungsi

Rabu, 17 Maret 2004 | 15:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta-Bekasi: Hingga Rabu (17/3), sekitar 1.800 warga Desa Buni Bhakti, Desa Pantai Hurip dan Desa Muara Bhakti yang berada di sekitar lokasi pengeboran minyak dan gas Pertamina Daerah Operasi Hulu Jawa Bagian Barat (DOH JBB) Pondok Tengah Kampung Buni Baru, Desa Buni Bhakti, Kecamatan Babelan, Bekasi, belum berani kembali ke rumahnya. Mereka mengungsi untuk menghindari ancaman gas beracun akibat peristiwa kebocoran pipa gas, Selasa (16/3).

Sekitar 1500 warga Desa Hurip Jaya mengungsi di berbagai lokasi, seperti Kantor Kepala Desa, masjid dan Puskesmas. Sebagian diantaranya juga mendirikan tenda-tenda. Tampak pula, Kantor Kepala Desa Buni Bhakti dipadati sedikitnya 300 warga yang berasal dari Kampung Buni Baru, Kampung Cabang Empat dan Kampung Singkil. Hingga berita ini diturunkan, arus kedatangan pengungsi terus mengalir.

Seperti diketahui, peristiwa kebocoran itu telah menimpa korban. Hingga saat ini korban yang masih dirawat adalah: Salimah (15 tahun) dan Jaliyah (20 tahun), warga Kampung Setia Makmur, Desa Hurip Jaya, di Rumah Sakit Umum Bekasi; Ani (15 tahun) dan Nur Kholifah (17 tahun) di Puskesmas Engkar Dini; Minah (50 tahun) dan Ika (20 tahun), warga Kampung Buni Baru di Puskesmas Bidan Cicih. Keenam korban itu mengalami kepala pening, sesak nafas, mual dan muntah-muntah. Sementara, 134 warga yang sempat dirawat di Puskesmas Engkar Dini, Desa Hurip Jaya, Puskesmas Bidan Cicih, Desa Buni Bhakti dan Rumah Sakit Belendung, Desa Sasak Canal Bekasi Laut lantaran menderita mata pedih dan sesak nafas, pagi tadi sudah boleh kembali ke rumah masing-masing.

"Pemerintah Kabupaten Bekasi ikut bersimpati dengan peristiwa pengungsian itu dan akan membantu biaya para korban," kata Wakil Bupati Bekasi, Solihin Sari, tanpa menjelaskan bentuk bantuan itu. Solihin juga menyayangkan terjadinya kebocoran gas milik Partamina itu, sehingga mengancam ribuan jiwa penduduk. Untuk itu, Pertamina diminta secepatnya mengamankan lokasi. "Jika terlalu lama, dikhawatirkan korban terus bertambah," katanya.

Tampaknya, kejadian itu memaksa Pertamina harus merogoh koceknya. Selain memperbaiki kebocoran, Pertamina juga harus membiayai biaya perawatan para korban dan menyediakan nasi bungkus untuk para pengungsi, seperti yang dijanjikan Manajer Umum DOH JBB Pertamina, Bambang Busono. "Kami akan membantu apa yang bisa dibantu, termasuk memberikan bantuan Rp. 15 ribu per jiwa," katanya.

Sementara itu, Direktur Utama PT. Pertamina (Persero) Ariffi Nawawi menyatakan, tidak ada faktor keteledoran pada peristiwa kebocoran pipa minyak itu. "Itu masalah teknis yang bisa terjadi," kata Nawawi. Kebocoran terjadi pada saat sumur PDT-01 -sudah ditutup 3-4 bulan- akan dieksplorasi. Pada saat persiapan uji produksi dilakukan dan penutup dibuka, secara tiba-tiba gas yang ada di dalam sumur menyembur keluar. Semburan gas, itu memicu gas yang ada dibawahnya keluar juga. Akibatnya, minyak tumpah dan keluar dari kepala sumur.

"Tapi, tumpahan minyak itu masuk dan tertampung dalam balong-balong di sekitar sumur yang dibuat pada saat pengeboran dilakukan. Saat itu, fungsi balong adalah untuk menampung limbah hasil pengeboran. Sekarang -dalam kondisi apapun-, tumpahan minyak jatuhnya ke balong-balong itu," kata Direktur Hulu Pertamina, Bambang Nugroho.

Saat ini, kata Bambang, Pertamina terus berupaya memperbaiki kebocoran, diawali dengan membersihkan tumpahan minyak yang ada di kepala sumur. Rencananya, besok pagi sumur akan ditutup kembali. "Gas ikutan yang keluar dari sumur minyak itu tidak beracun. Selain jumlahnya kecil, gas itu akan naik dan bercampur dengan udara bebas. Gas juga tidak akan merusak tanaman yang ada di daerah tersebut, seperti yang dikhawatirkan warga," kata Bambang lagi.

Siswanto, Retno Sulistyowati - Tempo News Room

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :