Menteri Minta Warga Tetap Waspadai Demam Berdarah

Sabtu, 27 Maret 2004 | 21:39 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Kesehatan Achmad Sujudi dalam kunjungannya ke Bumi Serpong Damai (BSD), Sabtu (27/3), menyatakan, meski wabah demam berdarah sudah hampir berlalu, tetapi masyarakat harus tetap waspada. Sebab dengan berakhirnya musim hujan dan berganti ke musim kemarau, tidak menutup kemungkinan jentik nyamuk penyebab demam berdarah terus berkembang biak.

Sujudi mengimbau agar masyarakat tetap melakukan kegiatan tiga M, yakni menguras dan membersihkan penampungan air, menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan mengubur barang-barang yang mudah tergenang air. Pemberian abate juga cukup bisa membasmi jentik nyamuk.

Menurut Sujudi, dari kejadian luar biasa, Provinsi DKI Jakarta dinyatakan terparah warganya terserang penyakit DB. Tetapi secara nasional keadaan sudah mulai membaik. Secara umum Indonesia berbeda-beda setiap daerah.

Dalam pameran yang berlangsung di gedung serba guna BSD, juga dipaparkan perkembangan nyamuk hidup. Nyamuk berkembang melalui telur yang kondisinya tegak lurus pada permukaan air. Selama 7-8 hari sejak nyamuk menetas dari telur, jentik nyamuk berubah menjadi kepompong atau pupa. Pada stadium pupa tidak makan dan bisa gerak turun naik ke batas permukaan air.

Sujudi bersama Bupati Ismet Iskandar kemarin berkeliling ke kawasan BSD sektor 1 untuk memantau
penyemprotan nyamuk. Dalam kesempatan itu, warga BSD melakukan gotong-royong membasmi pemberantasan nyamuk DB. Fogging atau pengasapan massal itu akan dilakukan secara kontinyu.

Diketahui, demam berdarah adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk aedes baik aedes aegypti
maupun alboppictus. Nyamuk-nyamuk ini senang berkembang biak di air jernih, sejuk dan gelap. Karena itulah, tempat perindukan yang harus diwaspadai adalah segala macam tempat penampungan air seperti bak mandi, ban bekas, kaleng bekas , drum, vas bunga, pot air berisi bunga teratai, lubang pohon, tempat bunga di pemakaman, bahkan juga bangunan-bangunan setengah jadi yang terbengkalai.

Ayu Cipta - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: