Jatuh dari Mobil Tahanan, Gunawan Santosa Pingsan

Rabu, 31 Maret 2004 | 01:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bagaimana mungkin Gunawan Santosa, terdakwa penembakan bos Asaba Budiarto Angsono, bisa keluar dari mobil tahanan saat dibawa dari rumah tahanan (rutan) Salemba menuju Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Selasa (30/3) siang, padahal dirinya diborgol? Pertanyaan itu masih menjadi teka-teki. Bahkan pihak kejaksaan sendiri merasa heran, mengapa Gunawan bisa memiliki senjata api, borgol, telepon seluler dan uang tunai. Rasa heran itu belum terjawab, pihak kejaksaan sudah menyatakan, saat Gunawan lari dan melompat dari mobil tahanan, secara kebetulan patroli kepolisian ada dilokasi kejadian, sehingga Gunawan bisa segera dibekuk. Gunawan yang juga tertembak dibagian pinggulnya. Tapi siapa yang menembak, kemudian juga menjadi tidak jelas.

Dari penelusuran TNR di lokasi kejadian, didapat beberapa keterangan yang cukup berarti dari beberapa saksi mata. Menurut para saksi, setelah melompat dari mobil tahanan, Gunawan ditemukan pingsan, persis di depan Klinik Asri Medika, Jalan Pangkalan Asem Raya, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. "Dia (Gunawan) tidak diborgol, luka ataupun berdarah. Saya tidak lihat dia tertembak, karena tidak ada darah di pakaiannya," kata salah satu tukang ojek/i>, Adi, warga Jalan Cempaka Lima, Cempaka Putih, Jakarta Pusat yang ikut menolong Gunawan saat kejadian berlangsung.

Menurut Adi, dirinya bersama Kaji, Toro dan beberapa tukang ojek lainnya, sekitar pukul 10.00 WIB, melihat mobil tahanan melintas di lokasi itu dari arah Salemba ke arah Utara. Saat itulah terlihat orang jatuh dari dalam mobil dan pistolnya disertai jatuhnya pistol yang sempat berputar-putar dan mengeluarkan satu kali letusan. "Tapi letusan tidak mengenai orang itu. Kalau dia tertembak, sudah pasti ada darahnya kelihatan dan berceceran. Tapi anda bisa lihat sendiri, tidak ada ceceran darah di sini," kata Adi.

Suara letusan tembakan juga sempat didengar Mustika S, seorang Satpam STIAMI -persis tempat mobil tahanan berhenti, sekitar seratus meter dari lokasi Gunawan tergeletak. "Saya tidak mendengar suara tembakan dari dalam mobil tahanan itu, tapi dari depan Klinik Asri Medika. Lalu, ada orang yang mengambil pistol itu dan diserahkan ke sipir," kata Mustika.

Para tukang ojek itu sebelumnya tidak tahu, orang yang jatuh itu adalah Gunawan Santosa. "Saya justru tidak tahu kalau itu tahanan. Kami kira justru polisi preman," kata Adi. Ketika saat ditemukan, Gunawan tidak beridentitas, mengenakan baju biru muda, celana panjang hitam, sepatu hitam, membawa telepon seluler, dompet berisi uang dan tentunya pistol yang terlempar tadi. "Saya tidak lihat dia membawa borgol," kata Adi lagi.

Saat Gunawan melompat, mobil tahanan masih melaju hingga sekitar seratus meter. "Saya kejar mobil itu dan memberi tahu, ada orang dan pistol yang jatuh," kata Adi. Di dalam mobil tahanan itu, Adi melihat dua sipir berpakaian coklat dan satu supir. Tampak, salah satu sipir berada di belakang dalam keadaan terborgol di kursi. "Saat saya beritahu, mereka gugup, pucat dan diam saja tidak berkata apa-apa. Hanya sipir yang terborgol itu yang bilang tahanannya lepas. Saya heran, kok sipirnya yang terborgol bukannya tahanan," kata Adi. Borgol yang mengekang sipir itu pun bisa dibuka lantaran dibantu Mustika yang membukanya dengan menggunakan kunci borgol miliknya.

Setelah itu, barulah para sipir mengikuti Adi menuju Klinik Asri Medika untuk melihat keadaan Gunawan. Sekitar satu jam kemudian, patroli polisi kawasan Johar Baru melintas dan akhirnya membawa Gunawan. "Saat dibawa, kondisi laki-laki yang jatuh itu masih baik. Ia (Gunawan) dituntun polisi itu," kata Adi.

Hingga berita ini diturunkan, Gunawan diketahui berada di ruang tahanan Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Djati, Jakarta Timur. Para dokter di rumah sakit itu juga belum mengambil peluru yang bersarang di pinggul kiri Gunawan dengan alasan tidak terjadi pendarahan masif. "Awalnya, tiap tiga jam Gunawan mendapat perawatan. Tapi kemudian diperintahkan memeriksanya tiap satu jam," kata dokter Erwin yang memeriksa Gunawan Santosa saat tiba di rumah sakit.

Belum dioperasinya Gunawan untuk mengambil peluru yang bersarang di pinggulnya itu, kata dokter Erwin, lantaran harus mengkonsultasikannya dulu dengan dokter bedah. "Operasi itu tidak mudah dan harus hati-hati, supaya tidak terjadi infeksi. Tapi, pendarahan yang dialami Gunawan tidak berat, hanya pendarahan kecil. Bahkan hampir tidak ada," katanya. Rencananya, Rabu (31/3) pagi, barulah tim dokter bedah RS Kramat Djati akan melakukan operasi pengambilan peluru terhadap Gunawan.

Menurut dokter Erwin, saat ini Gunawan dalam keadaan sadar dan tetap diinfus. "Kondisinya baik, tensi dan nadinya bagus," katanya. Dari pengamatan TNR dari kaca jendela luar ruangan, tampak tiga kali aparat keamanan sempat tiga kali memborgol tangan Gunawan, karena borgol terlepas. "Mungkin karena licin, sehingga borgolnya mudah lepas," kata seorang petugas jaga. Saat diborgol kembali, tampak juga Gunawan terus meronta-ronta.

Saat ini, Gunawan belum boleh dijenguk siapapun, termasuk pengacara dan pihak keluarga. "Untuk menjenguk Gunawan, harus ada ijin," kata salah seorang petugas yang menjaga di ruang perawatan tahanan. Aparat polisi dari Kepolisian Resor Jakarta Pusat dan Kepolisian Daerah Metro Jaya juga tampak menjaga ketat ruang perawatan Gunawan.


Putri Alfarini - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim