Kalah Suara, Kader PDIP Bakar Jembatan

Rabu, 07 April 2004 | 18:56 WIB

TEMPO Interaktif, Bekasi: Lantaran Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) kalah dalam perhitungan suara pemilihan umum (Pemilu), di Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Cikarang Pusat, Bekasi, sedikitnya 30 warga membakar satu jembatan di daerah itu. Sampai sekarang, satu-satunya jembatan yang menghubungkan Dusun Patola dengan Dusun Paparean, Desa Pasir Tanjung itu masih terputus. Untuk melintasi sungai Pasir Tanjung, terpaksa warga harus mencari jalan lain sejauh dua kilometer.

Pembakaran fasilitas umum itu baru terungkap setelah Kepala Dusun Patola, Maman melaporkannya kepada pihak kepolisian, Rabu (7/4). Dilaporkan, Selasa (6/4) malam, puluhan pria mendatangi jembatan sambil membawa ban bekas dan bungkusan minyak. Saat massa membakar jembatan itu, tidak seorangpun warga berani mencegah. "Jembatan itu baru seminggu direhabilitasi dengan biaya dari seorang calon legislatif dari PDIP, Samosir," kata Kepala Dusun Paparean, M. Adin kepada polisi.

Jembatan sepanjang sekitar 25 meter yang dibuat warga secara swadaya pada 1994, itu sangat berfungsi bagi warga sekitar. Selain sebagai sarana penyeberangan hasil bumi antar daerah dan lalu lintas warga yang ingin bepergian ke pasar, jembatan juga berfungsi untuk menyeberangkan murid-murid sekolah. Sewaktu dibuat pertama kali, jembatan yang melintasi Sungai Pasir Tanjung selebar sekitar 20 meter dan terbuat dari bahan dasar kayu hutan, itu memakan biaya sekitar Rp. 5 juta rupiah. "Saya sendiri selalu memanfaatkannya untuk pergi ke tempat pembuatan batu-bata tiap hari," kata tokoh Desa Pasir Tanjung, Salim, 38 tahun.

Terhadap aksi brutal itu, Salim tentu merasa kesal. Apalagi setelah diketahuinya, rehabilitasi dengan biaya seorang caleg beberapa waktu lalu itu ternyata meminta pamrih. "Tahu begitu, tidak usah diperbaiki saja. Warga juga bisa memperbaikinya sendiri," katanya. Saat pembakaran terjadi, Salim sendiri sedang bekerja di lokasi pembuatan batu bata yang terletak sekitar satu kilometer dari lokasi kejadian.

Putusnya jembatan itu juga membuat kesal warga lainnya, Apong, 42 tahun. "Sewaktu jembatan diperbaiki oleh PDIP itu, kita sudah mereka mau mencari massa. Kalau mereka kemudian kalah suara, itu biasa kan?" kata Apong. Lain lagi kata tokoh masyarakat Bekasi, Muhammad Abid Marzuki. Menurut Abid, aksi pembakaran itu merupakan tindakan kriminal yang sudah sepatutnya mendapat perhatian pihak kepolisian. Untuk itu, dirinya meminta pihak kepolisian segera mengusut siapa pelakunya. "Aksi pembakaran itu sangat menodai asas demokrasi dan mencoreng PDIP sendiri. Ini harus ditindak tegas oleh polisi," kata Abid.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse dan Intel Markas Kepolisian Resor Metro Bekasi, Ajun Komisaris Polisi Yudi Sinlaeloe mengatakan, pihaknya akan bertindak hati-hati menyikapi kasus perusakan itu, karena berkaitan dengan partai yang saat ini masih berkuasa. "Kami akan menyelidiki dengan hati-hati, jangan sampai menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak," kata Yudi.

Ketua Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Bekasi, Martha Gumaran sendiri mengaku belum mendapatkan laporan mengenai tindakan pembakaran yang dilakukan oleh kader PDIP. Menurutnya, selama ini PDIP sering membangun jembatan dan sampai saat ini belum penah melakukan aksi perusakan terhadap jembatan. "Saya belum tahu jika ada perusakan oleh kader PDIP. Jika ada aksi seperti itu, pasti bukan dilakukan orang PDIP," katanya meyakinkan. Martha juga meminta pihak kepolisian untuk menindak-lanjuti kasus itu secara serius.

Siswanto - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: