Jakarta Akan Punya Bus Air
Rabu, 14 April 2004 | 10:36 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sarana transportasi alternatif di sungai yang melintang di tengah kota Jakarta segera dibangun. Untuk tahap awal, pemerintah akan menempatkan sejumlah bis air di ruas Banjir Kanal Barat aliran sungai Ciliwung jalur Manggarai-Setiabudi-Karet-Tomang-Teluk Gong-Muara Angke.
Direncanakan, kendaraan yang akan melaju di sepanjang jalur sungai tersebut berkapasitas sekitar 40 penumpang. "Ini bukan mimpi, layaknya sebuah metromini, bus air ini akan melintas di tengah kota Jakarta dan melayani masyarakat dari arah Manggarai hingga laut di Jakarta Utara," ujar Bambang Sucipto Yuwono Pimpinan Proyek Penanggulangan Banjir Ciliwung - Cisadane, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, kepada Tempo News Room di Jakarta, Rabu (14/3).
Nantinya, seluruh aliran sungai yang melintasi Jakarta akan dimanfaatkan sebagai infrastruktur transportasi, termasuk ruas Banjir Kanal Timur yang saat ini sedang dikerjakan.
Di sepanjang jalur sungai Ciliwung itu, kelak akan dibangun sejumlah halte untuk tempat pemberhentian bis air tersebut. Kendati belum bisa dirinci di tempat mana saja halte itu akan dibangun, namun menurut Bambang, untuk sementara berdasarkan rencana pintu-pintu air yang ada akan berfungsi sebagai tempat pemberhentian. Tidak menutup kemungkinan, penumpang turun di tempat yang dikehendaki. "Seperti orang Manggarai mau ke Tanah Abang, nanti tinggal naik bis air ini aja," tambah Bambang.
Sepanjang jalur Manggarai-Muara Angke, terdapat dua pintu air yang nantinya digunakan sebagai halte. Di halte inilah, penumpang yang bertujuan ke tempat yang lebih jauh akan dipindahkan ke bis air berikutnya. Masalahnya, debet air di hulu dan hilir belum sama, masih harus diatur dengan buka tutup pintu air.
Sebagai perbandingan, kata Bambang, di kawasan Surabaya, pintu-pintu air yang akan dilewati bus air ini dibuat lebih luas seperti kolam. Pintu air itu sendiri akan dilengkapi dengan alat penyeimbang permukaan air yang dinamakan shiplock. "Shiplocknya dibuka dulu sebelum bis lewat, sehingga permukaan airnya akan merata dan seimbang," kata dia.
Gubernur Sutiyoso, kata Bambang, menginginkan realiasi sarana transportasi air tersebut, lebih cepat. "Jalur ini bisa jadi transportasi alternatif, membangun jalan darat sekarang lebih sulit dan mahal, belum terbentur pembebasan tanah," kata Sutiyoso sebagaimana dikutip Bambang.
Diakui Bambang, masih banyak kendala untuk merealisasikan rencana itu. Salah satunya dana. Hingga saat ini, untuk pekerjaan perbaikan saluran air saja, kendati tidak disebutkan secara rinci yang dibutuhkan, pihaknya mengaku baru menerima kucuran dana dari pemerintah sekitar Rp 8 miliar. Padahal, berdasarkan taksiran, dana yang dibutuhkan untuk pembangunan sarana transportasi air termasuk armada angkutannya sekitar Rp 400 miliar.
Kendala lain yang dihadapi adalah masalah sampah. Kumpulan bahan anorganik ini akan sangat menggangu arus lalu lintas nantinya. Sehingga, mulai saat ini instansi yang dipimpin Bambang mulai membersihkan jalur suangai dari sampah.
Kendati belum ada target waktu yang ditetapkan untuk penyelesaian jalur transportasi alternatif tersebut, Bambang memperkirakan dalam waktu dekat ini rencana tersebut akan segera terealisasi. "Setidaknya jika dananya sudah siap, kemungkinan tiga tahun ke depan rencana ini sudah bisa terealisasi," ujar dia optimis.
Danto - Tempo News Room





