Korban Gusuran Tagih Realisasi Rumah

Selasa, 27 April 2004 | 11:38 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 200 orang korban penggusuran berencana mendatangi kantor Mensos dan Menko Kesra siang ini. Mereka menuntut realisasi satu juta unit rumah bagi rakyat miskin yang telah dijanjikan pemerintah tahun lalu.

"Kami akan melemparkan tahi kuda dan telur busuk ke plang tulisan kantor Mensos dan Menko Kesra," kata Marlo Situmpul, koordinator aksi kepada Tempo News Room, Selasa (27/4). Menurutnya, ini adalah bentuk kekesalan para warga korban gusuran yang selama ini terkatung-katung tempat tinggalnya.

Saat ini, jelas Marlo, ada beberapa wilayah penggugusan di Jakarta Barat yang masih menyisakan sebagian warga yang bingung karena tidak memiliki tempat tinggal. Mereka, di antaranya dari lokasi penggusuran di Tanjung Duren ada sekitar 300 orang, Cengkareng Timur ada 300 orang, dan Jembatan Besi ada 50 orang. Sebagian lainnya sudah banyak berpencar, ada yang tinggal menumpang di rumah saudara atau yang masih memiliki kampung halaman memilih pulang.

Sementara korban gusuran Kali Adem, Muara Angke, Jakarta Utara, telah dijanjikan pemerintah dan sepakat untuk pulang kembali ke daerah asal mereka di Indramayu. "Jadi korban Kali Adem tidak ikut aksi ini karena mereka sudah ada jalan keluarnya," katanya.

Aksi rencananya dimulai pukul 11.00 WIB di kantor Departemen Sosial di Matraman Jakarta Pusat. Baru setelah itu mereka akan ke kantor Menko Kesra di Jalan Merdeka Barat sekitar pukul 13.00 WIB.

Sebelumnya, mereka telah mengadakan aksi serupa beberapa kali. Dalam kesempatan itu, Menko Kesra Jusuf Kalla menjanjikan perumahan murah bagi rakyat. Pemerintah, kemudian melalui Depkimpraswil telah berencana mengucurkan dana pembangunan rumah korban gusuran dari dana milik pemerintah yang dialokasikan untuk membeli aset tanah BPPN. Menkimpraswil Soenarno telah menyatakan beberapa waktu lalu di depan wartawan bahwa dana itulah untuk membangun satu juta unit rumah bagi rakyat miskin.

"Janji itulah yang saat ini kami tagih karena tidak melihat realisasinya," kata Marlo. Sementara anak-anak dan perempuan yang menjadi korban gusuran tidak bisa menunggu terlalu lama. "Kasihan kalau terkatung-katung," katanya.

Mereka dalam aksi ini telah menyiapkan tahi kuda dan telur busuk untuk dilemparkan ke plang nama kantor kedua menteri tersebut. Selain itu ada beberapa spanduk yang antara lain bertuliskan, buat apa pilih presiden kalau rakyat jadi sengsara.

Jika nanti rumah bagi rakyat miskin itu terealiasi, menurut Marlo, warga meminta agar harganya tidak terlalu mahal. "Ya rasional dengan keadaan ekonomi sekarang ini," katanya. Pihaknya juga meminta agar 35 orang yang saat ini masih ditahan di Polres Jakarta Barat segera dilepas.

Mereka yang semula ada 38 orang ditahan awal 9 April lalu karena nekat menduduki tanah bekas gusuran di Tanjung Duren. "Mereka kan warga yang cuma ingin merebut tanahnya kembali," katanya. "Setahu saya tidak ada yang membawa sajam (senjata tajam)," katanya.

Menurutnya, mereka sudah mengikuti semua prosedur administrasi yang ada untuk mendapatkan rumah tersebut. "Kami telah mendatangi kantor Gubernur DKI Jakarta dan sudah diberikan pengantar yang menerangkan kami adalah warga DKI," katanya.

Anastasya - Tempo News Room






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: