Ratusan Pedagang Pasar Baru Bekasi Bingung

Selasa, 27 April 2004 | 17:12 WIB

TEMPO Interaktif, Bekasi:Sedikitnya 150 pedagang korban kebakaran pusat perbelanjaan Pasar Baru, Jalan Ir. Juanda Kelurahan Margahayu, Kota Bekasi hingga saat ini masih bingung. Pasalnya, mereka belum mendapat kepastian dari pemerintah setempat kapan dan di mana bisa sementara berjualan, hingga hari ini, Selasa (27/4).

Persoalan yang dihadapi para pedagang itu mengemuka setelah sejumlah anggota DPRD Kota Bekasi mengunjungi lokasi bekas kebakaran. Dialog yang dilakukan oleh para dewan dari Komisi B itu didominasi keluhan yang disampaikan oleh para pedagang.

Selain soal lokasi penampungan, juga soal iuran “liar” yang dilakukan oleh petugas berseragam dinas pemerintah, dan tak adanya lahan perparkiran. Seperti diungkapkan oleh Aceng, 40 tahun, pasca kebakaran di pusat perbelanjaan terbesar di Bekasi, pada Selasa (2/3) lalu, dia terpaksa menanggung kerugian sekitar Rp 5 juta.

Sampai sekarang, dia mengaku belum menerima ganti rugi dari pihak pemerintah. “Boro-boro ganti rugi, setelah kebakaran, saya terpaksa jualan berpindah-pindah,” kata pedagang daging yang dulunya membeli kios seharga Rp 10 juta.

Dia juga mengeluhkan soal pungutan yang dilakukan oleh para petugas berseragam pemerintah. Katanya, setiap hari ada petugas yang meminta sumbangan dengan bebagai alasan seperti retribusi keamanan dan kebersihan. “Sehari masa, saya dipungut sampai Rp 15 ribu,” kata dia.

Yang disesalkan juga, dalam keadaan menanggung kerugian dan tak jelas lokasi untuk berdagang tetap saja ada pungutan yang tidak resmi itu karena tak ada karcis retribusinya. “Memang ada juga setiap hari itu minta pungutan, resminya kan Rp 1500, dan itu juga ada bukti karcisnya,” kata Aceng di depan anggota dewan.

Pedagang lainnya, Suryanto, 35 tahun, pun berkeluh kesah kepada para anggota dewan yang hadir di pertemuan di posko kebakaran gang Bakti Rt 3/1 Kelurahan Margahayu. Kata dia, dalam sehari, bisa Rp 30 ribu mengeluarkan uang untuk sumbangan keamanan dan kebersihan. “Malahan, kadang, yang datang ke saya itu tidak pakai seragam, tapi bawa golok, mau tak mau, kita jadi takut,” kata dia.

Pasca kebakaran itu, para pedagang mengaku mengalami kerugian. Dulunya, sehari bisa mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 1, 5 juta. Tetapi, sekarang ini pendapatan menurun drastis. “Pokoknya sekarang jadi turun, persoalannya antara lain, karena lokasi berdagang yang tidak setrategis, acak-acakan,” kata Suryanto.

Menurut pemantauan Tempo News Room di lokasi, ratusan lapak-lapak yang sudah dibangun oleh dinas pasar kota Bekasi memang sudah berdiri. Bangunan yang terbuat dari kayu itu terkesan dibuat sekedarnya saja. Buktinya, ketika terpal yang menjadi atapnya ditiup angin, rancangan bangunan itu bergoyang-goyang mau roboh.

Gang-gang menuju ke dalam bangunan pasar menjadi tertutup. Pasalnya, bangunan penampungan itu tidak tertata dengan rapi. Dibuat dengan tanpa mempertimbangkan kapasitas lokasi. Lokasi perparkiran juga dibuat sebagai penampungan sehingga, kendaraan terpaksa hengkang dan parkir di sembarang tempat, tampak semrawut.

Lapak-lapak itu dibangun dengan ukuran masing-masing 3 x 3 meter persegi.
Hal itulah yang juga disampaikan para pedagang di dalam pertemuan itu. mereka menilai, lapak-lapak seukuran itu sebenarnya terlalu lebar untuk pedagana daging atau sayuran. “Lapak-lapak itu sebenarnya melebihi kapasitas, akibatnya, pembagian lokasi tidak merata bagi semua pedagang, harusnya lebih kecil,” kata pedagang lainnya.

Para pedagang juga mendesak dewan untuk meminta dinas terkait menertipkan preman berseragam pemerintah yang dianggap meresahkan para pedagang. Selain itu, mereka juga meminta supaya dinas terkai menata kembali pasar itu, sebab, pasar ini merupakan yang terbesar di Bekasi, nomor tiga di Jawa Barat.

Menanggapi keluhan yang disampaikan para pedagang itu, Ketua komisi B, Nurul Yakin Setiabudi mengungkapkan, memang persoalan di pasar Baru ini dari dulu sampai sekarang tak pernah selesai. Sebabnya, antara lain, pengelola pasarnya yang dinilai tidak becus mengelola pasar.

Siswanto – Tempo News Room

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :