Presiden Resmikan Lima Stasiun Pompa

Kamis, 06 Mei 2004 | 11:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan lima stasiun pompa pengendali banjir Waduk Setiabudi Timur, Setiabudi Barat, Melati, Tomang Barat, dan Pluit.

Peresmian berlangsung di Waduk Setiabudi Barat, Jakarta, Kamis (6/5) dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Polkam ad interim Hari Sabarno, Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso dan undangan dari duta besar negara sahabat.

Dalam sambutan spontannya, Presiden Megawati mengatakan meski pembangunan sarana pengendali banjir secara fisik sudah selesai, namun bila masyarakat tidak ikut menjaga dan disiplin dalam membuang dan mengelola sampah, maka itu tetap menjadi hambatan. Dia mengatakan fungsi pengendali banjir tidak akan optimal karena perilaku masyarakat yang tidak berubah tetap akan menyebabkan terjadinya endapan secara cepat.

"Saya kalau keluar kota pasti melewati Kuningan, saya bisiki Gubernur, tidak bisa apa mengurangi bau parfum, karena itu seharusnya bisa kalau masyarakat ikut membantu," kata Presiden seraya tersenyum.

Presiden menambahkan, pengendalian banjir di Jakarta juga harus dilakukan terkoordinasi dengan daerah di sekitar ibu kota, yaitu Provinsi Jawa Barat dan Banten. Menurut dia daerah-daerah tersebut harus melakukan penataan air yang baik sehingga tidak langsung mengalir ke Jakarta. Pasalnya masalah banjir di Jakarta tidak saja terjadi akibat limpahan air dari kawasan sekitarnya, tapi juga pasang naik dari laut.

"Yang memusingkan Gubernur ini selalu hujan deras dan pasang naik. Apa yang bisa dikendalikan saat bertemunya kedua air ini? Jakarta yang seperti cawan ini tentu saja akan terpendam," ujar dia.

Dalam kesempatan itu Presiden juga meminta penyelesaian segera masalah tata ruang nasional. Menurutnya tata ruang itu harus dibuat sampai pada bagian-bagian yang kecil sehingga dapat mengukur sesuatu, terkait pengendalian banjir, dapat secara objektif. Ditambahkannya, tata ruang itu juga harus dilaksanakan secara konsisten baik oleh badan legislatif maupun pemerintah baik pusat dan provinsi.

Dalam kesempatan terpisah Gubernur Sutiyoso mengatakan pembangunan lima stasiun pompa itu belum dapat secara optimal mengendalikan masalah banjir yang kerap melanda Jakarta. Dia mengatakan tingkat kepadatan penduduk Jakarta sudah mencapai 14 ribu orang per kilometer persegi.

Di sisi lain 40 persen atau 26 ribu hektare wilayah Jakarta adalah dataran rendah di bawah permukaan laut ditambah lagi 13 sungai yang melintasi ibu kota. "Akibatnya Jakarta rawan banjir," kata Gubernur.

Gubernur mengatakan jumlah stasiun pompa ataupun pompa air yang dimiliki Jakarta baru mencapai 30 persen atau baru sanggup mencakup 8.600 hektare dari wilayah dataran rendah di bawah permukaan laut tersebut. Jadi, lanjutnya, masih cukup banyak kawasan rawan banjir yang belum terlayani.

Berlangsungnya acara ini menyebabkan arus lalu lintas di Jalan Sultan Agung dari arah terminal bus Manggarai menuju kawasan Jalan Kuningan dan Jalan Sudirman mengalami hambatan. Kendaraan yang bermaksud menuju Sudirman dialihkan polisi ke arah Kuningan sehingga membuat banyak pemilik kendaraan menggerutu karena mereka harus mengambil jalur yang lebih panjang.

Pengalihan ini mulai dilakukan Kepolisian sejak pukul 09.30 WIB, dan baru normal kembali pada pukul 11.00 WIB saat presiden telah meninggalkan lokasi peresmian.

Deddy Sinaga - Tempo News Room

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :