Lagi, Tumpahan Minyak Ditemukan di Kepulauan Seribu
Selasa, 18 Mei 2004 | 20:59 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Akhir pekan lalu, Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menemukan lagi tumpahan minyak di kawasan Zona Inti Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu. Desember tahun lalu, BPLHD juga menemukan hal sama. "Kami belum bisa memastikan asal limpahan minyak itu. Di sekitar lokasi memang ada ladang minyak China National Oil Offshore Corporatiion (CNOOC) dan BP Indonesia," kata Kepala BPLHD DKI Jakarta, Kosasih Wirahadikusumah di Jakarta, Selasa (18/5).
Menurut Kosasih, ada dua kemungkinan asal tumpahan minyak: jaringan pipa minyak dari ladang minyak atau kapal tanker yang melintas di lokasi. Maklum, di kawasan itu ada sekitar 140 ladang minyak milik CNOOC dan BP Indonesia. Selain itu, ada sekitar 33 tanker melintas di Selat Sunda dan 44 tanker yang menuju Balongan lewat wilayah itu. Tapi walau sudah mengumpulkan contoh dari lokasi seperti dari Pulau Pramuka, kata Kosasih, BPLHD hanya berwenang mencegah kerusakan lebih jauh dari limpahan minyak. "Soal menemukan asal limpahan minyak, itu menjadi wewenang Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Badan Pengelola Minyak dan Gas," kata Kosasih.
Kosasih mengatakan, KLH dan BP Migas tentunya kesulitan dana untuk menganalisa sampel minyak. Karena untuk mengumpulkan sampel dan analisa saja dibutuhkan dana sebesar Rp. 250 juta. Padahal, sampel kemudian harus dicocokkan lagi dengan tanker yang melintas atau ladang minyak terdekat dari lokasi ditemukannya tumpahan minyak. Sayangnya, pihak KLH mengaku belum bisa berbuat apa-apa. "Kami sudah mendapat info, tapi belum mengirim tim penyidik. Tim kami masih meneliti kasus matinya ribuan ikan di pantai Ancol," kata Asisten Deputi Pusat Sarana Pengendalian Lingkungan, Imam Hendargo.
Sementara itu BPLHD, menurut Kosasih, kesulitan dalam memulihkan air laut yang tercemar limpahan minyak. "Butuh waktu satu bulan untuk menormalisasikan air laut dari minyak," katanya. Lagipula, analisa sampel minyak membutuhkan dana besar. Padahal, tumpahan minyak diakui sudah menganggu sektor pariwisata di Kepulauan Seribu. Bahkan, protes sudah datang dari pemilik resort di Kepulauan Seribu.
Multazam - Tempo News Room




Komentar Anda :